|
PIPIT (8 tahun), sedih sekali karena DIAH (36 tahun), ibu tercintanya belakangan ini sakit-sakitan. Mungkin karena Ibunya terlampau capek. Beliau adalah tukang cuci setrika beberapa keluarga di sekitar tempat tinggal mereka. Sebagai ibu tunggal, Diah memang harus bekerja keras untuk membiayai hidupnya dan Pipit. Biaya sekolah. Juga konrakan rumah.
Melihat Ibunya sakit, Pipit sedih dan bingung. Dia lalu menawarkan pada ibunya agar dia saja yang mencuci baju dan menyetrika. Tapi Diah tak mau. Karena Pipit masih kecil dan belum bisa mencuci baju yang benar. Tapi Pipit nekad. Akhirnya dia malah membuat kesalahan. Baju Nyonya Broto dan Bu Barjo kelunturan. Akibatnya, Diah diomelin habis-habisan.
Pipit sedih. Dia lalu pergi ke lapangan. Kebetulan dia bertemu dengan seorang nenek penjual bakul, sapu dan papan cucian. Setelah keliling seharian, barangnya belum ada satu pun yang membeli. Untuk beli makanan Nenek itu tidak punya uang akhirnya dia kelaparan. Pipit memberikan jatah nasi bungkusnya, lantaran iba. Dia bahkan membantu sang Nenek menjualkan barang-barangnya. Ada beberapa yang laku terjual. Keduanya sangat senang. Tapi Pipit kaget. Waktu hampir sore. Dia baru sadar karena ditunggu ibunya sejak siang. Nenek meberikan Pipit papan cucian. Katanya, Mudah-mudahan, papan cucian itu membantu Pipit dan ibunya mencari rejeki. Anehnya, saat pulang, ketika Pipit menoleh ke belakang, Nenek itu tidak ada.
Diah kesal pada Pipit. Apalagi Bu Broto marah-marah dan minta penggantian bajunya yang luntur. Diah mengira Pipit seharian hanya mainmain saja. Pipit sedih. Malamnya, dia mencoba mencuci baju yang luntur. Aneh, papan cucian itu ternyata mencuci sendiri. Dan dalm sekejap, pakaian Bu Broto bebas luntur alias kinclong kembali. Bukan Cuma baju Bu Broto. Tapi juga baju yang lain. Dalam sekejap, bbersih semua. Pipit dan ibunya kaget. Tapi dengan segera, keajaiban cucian itu digunakan Pipit untuk mencari uang. Para tetangganya banyak yang mencuci baju pada Pipit dan Ibunya.
Mpok Munah, tetangga Diah kesal melihat keberhasilan Diah dan Pipit. Dia heran, kok bisa Diah mencuci baju segitu banyak tapi bersih dan cepat. Dia kaget saat mengintip ternyata papan cucinya bukan sembarang. Tapi papan cuci ajaib. Akhirnya, Pok Munah mencurinya. Tapi ternyata dia tak bisa menggunakannya. Pakaian yang dicucinya malah robek-robek. Pok Munah ketakutan dan menyesal. Akhirnya dia kembalikan lagi papan cucian itu pada Diah dan Pipit.
Suatu hari Pipit yang sedang bosan bicara sendiri kalau dia kepingin jalan-jalan, karena bosan di rumah. Tiba-tiba saja papan cucian bergoyang-goyang dan melayang di depan Pipit. Pipit kaget campur senang. Dia langung melompat naik papan cucian. Dan dalam waktu singkat papan cucian terus meluncur ke udara hingga akhirnya menembus awan. Keduanya mendarat di awan comulus nimbus. Pipit terpukau melihat keindahan bumi di bawah sana. Dan dia kaget ternyata di awan juga terdapat kehidupan. Dia lalu berjalan-jalan diantara awan. Dan kaget saat melihat seekor ular yang melintang di jalanan. Pipit yang berani tidak takut, dia melompati ular itu dan bergegas pergi. Ajaib, ular itu tiba-tiba menghilang dan berganti wujud menjadi seorang raja.
Raja itu mengejar Pipit dan minta tolong agar Pipit mau membantu kerajaan dan rakyatnya yang sedang ketakutan karena ada naga merah yang mengganggu ketentraman mereka. Piit bingung. Dia bilang dia tidak akan mampu mengalahkan naga merah. Tapi raja bilang kalau dia sudah yakin Pipit mampu, karena Pipit berani melompatinya saat dia menyamar menjadi seekor ular besar – dimana selama ini tidak penah ada seorang pun yang mau melakukannya – raja menjanjikan jika Pipit berhasil mengalahkan naga merah, dia akan mendapat hadiah yang banyak dari raja. Pipit tergiur karena dia ingin membahagiakan ibunya. Akhirnya Pipit menyanggupi.
Malam hari tiba. Suasana damai di kerajaan itu tiba-tiba terguncang dengan kedatangan naga merah. Pipit langsung menghadai naga itu. Dia sama sekali tidak takut. Melihat anak kecil menantangnya, naga merah marah besar. Dia langsung menghantam pipit. Tapi dengan papan cuci ajaibnya, Pipit berhasil menghindar. Dia melempari naga merah dengan tombak. Tapi tidak mempan. Pipit bingung. Akhirnya saat naga merah hendak menyambar, Pipit langsung melemparkan tombak terakhir dan mengenai diantara mata sang naga. Berhasil ! Naga pun ambruk dan langsung mati. Raja dan rakyatnya langsung gembira dan mengeluk-elukkan. Namun ternyata masalah belum selesai.
Muncul raksasa besar yang ternyata adalah pemilik naga merah itu marah besar melihat naga peliharannya mati. Begitu tahu Pipit yang mengalahkan naga merah, raksasa besar itu menangkap dan menyekapnya di rumahnya yang besar. Pipit ditaruh disebuah kandang kecil. Setiap hari dia menyuruh istrinya untuk memberi makan Pipit untuk menjadi santapannya beberapa hari ke depan. Pipit ketakutan. Dia berusaha membujuk istri raksasa agar membebaskannya. Istri raksasa adalah seorang perempuan yang ramah dan lembut. Dia sayang pada Pipit karena pernah kehilangan anak perempuannya. Lantaran tidak tega anak kecil itu mau dimakan suaminya, akhirnya membebaskan Pipit. Sayang, perbutannya ketahuan Raksasa. Raksasa marah besar dan mengamuk. Tapi Pipit tidak hilang akal. Dia mengambil ayam betina emas kesayangan raksasa dan mengancam raksasa. Raksasa makin marah. Untunglah disaat genting, mucul papan cuci ajaib yang langsung menyelamatkan pipit yang membawa ayam betina emas itu. Raksasa mengejar. Tapi begitu di ujung awan, dia malah jatuh ke bumi dan tewas.
Pipit pulang ke bumi dengan selamat. Berkat ayam emas yang bertelur emas, dia dan ibunya kini hidup kaya raya.
|