|
Terkubur Hidup-Hidup
Kisah ini terjadi dua tahun lalu. Saat itu saya (Jaya) dan dua orang teman (Surya dan Hendi), sedang menggali timah. Bagi kami masyarakat Belitung Timur, menggali timah adalah mata pencaharian utama sekaligus sangat beresiko. Pernah juga kades kami melarang penggalian timah dan mengajak warga bekerja sebagai penggarap ladang. Karena menggali timah bisa merusak lingkungan. Tapi kami terlalu sayang jika meninggalkan timah.
Saya dan kedua teman saya meneruskan penggalian sumur untuk mencapai kedalaman 50 meter. Kami bekerja dengan peralatan seadanya. Tentu resiko kecelakaan ada di depan mata. Lagi-lagi kami menghiraukan maut demi rupiah. Saya terus menggali sumur. Surya menyusun kayu-kayu di sepanjang dnding sumur, untuk titian kami kembali ke atas. Sedangkan Hadi menjaga mesin diesel yang menyedot genangan air dari dalam sumur galian.
Saya terus menggali dengan keyakinan bahwa beberapa meter lagi akan ditemukan bongkahan timah yang akan merubah kehidupan keluarga saya dari serba sulit menjadi serba cukup. Namun cuaca tidak bersahabat. Di atas sana, mulai mendung. Surya dan Hadi menyarankan agar saya berhenti menggali dan segera naik. Namun saya tetap menggali dengan banyangan bongkahan timah di dalam pikiranku. Menurutku, hujan kali ini tidak akan besar. Tenda yang dibuat di lobang sumur bisa menahan air.
Namun tidak! Hujan ternyata turun dengan begitu besar, disertai petir dan guruh. Surya sudah ke atas. Tinggal saya dibawa. Kedua temanku itu berteriak-teriak agar saya segera naik. Namun cangkulku membentur sesuatu. Saya jadi sangat penasaran. Kusibak lapisan tanah dan … terkuaklah bongkahan timah. Saya berteriak kegirangan. Namun … beberapa detik kemudian, dinding sumur runtuh.
Saya segera sadar, bahwa saya berada dalam bahaya besar. Surya dan Hadi berusaha menolong saya. Saya juga segera naik. Namun tanah dari atas terus berjatuhan. Saya panik. Namun sekilas saya ingat bahwa ada ruang celah sempit yang kami gali untuk perlindungan. Segera tubuhku masuk ke ruang itu, dengan posisi telentang, mirip sekali dengan mayat dalam kubur.
Tanah dari atas semakin deras menutup lubang sumur. Hingga jadilah saya terkubur hidup-hidup sedalam 50m. Saya hanya bisa menggerakkan sedikit tangan dan kepala saya. Selebihnya terhimpit tanah. Saya terus dalam posisi laksana jenazah dikubur.
Kuatur nafas dengan sehemat mungkin. Saya tidak mau mati kehabisan oksigen. Saya sangat berharap, oksigen di ruangn sempit ini masih tersedia hingga orang-orang di atas berhasil menyelamatkanku. Namun saya jadi dihinggapi rasa putus asa. Mana mungking orang-orang di atas bisa cepat menggali sedalam 50 meter. Butuh waktu berhari-hari. Dan saya yakin, sepertinya oksigen dalam ruang sempit ini hanya bisa dipakai selama satu jam. Setelah itu, saya akan mati lemas perlahan-lahan.
Ya Tuhaaan!
Saya berusaha menggerakan badan. Namun sulit. Saya tinggal punya satu cara, yaitu pasrah kepada Tuhan yang Mahakuasa. Saya teringat istri dan kedua anakku. Saya berdoda agar saya selamat dan bisa menafkahi mereka lagi. Saya juga teringat tindakan-tindakan kasarku kepada beberapa aparat desa yang memperingati agar saya tidak menggali lagi.
Waktu terus berjalan. Detik demi detik seolah kematian semakin menghampiriku. Namun tiba-tiba saya mendengar sesuatu dari atas tanah. Seperti orang-orang yang menggali tanah. Saya merasa sangat senang sekaligus sangat aneh. Mana mungkin penduduk kampung bisa menggali tanah sedalam 50 meter dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi, ah, yang saya pikirkan waktu itu hanyalah selamat dari kematian. Entah keajaiban apa yang sedang terjadi, saya tidak mengerti.
Selang beberapa menit, tanah di sekelilingku dibongkar. Tampaklah Surya dan Hadi menggali. Namun keduanya terperanjat dan berteriak ketakutan. Keduanya segera kabur ke atas. Saya tidak mengerti. Saya pun segera naik ke permukaan. Sesampainya di luar, tampaklah istriku. Ia seperti ingin memeluk saya namun malah jadi ketakutan. Saya semakin tidak mengerti.
Saya mendekati warga yang ikut menggali, namun mereka malah lari. Yang tingga hanya istri dan kedua anakku. Saya bertanya ada apa. Dan jawaban dari istriku sangat mengejuktakan. Semua orang mengira saya sudah mati. bahkan istirku sudah mengadakan tahlilan tujuh hari.
Tentu saya terkejut. Bagaimana mungkin keluarga saya sudha tahlilan atas kematianku ke tujuh harinya. Sedangkan saya baru terkubur selama kurang dari satu jam. Saya pun segera pulang. Sesampainya di rumah, barulah saya dan istriku berbagi cerita, antara apa yang sudah terjadi di dalam tanah dan di atas. Ternyata … menurut orang-orang yang ada di atas (penduduk), saya terkubur sudah satu minggu. Sehingga keluarga saya menyimpulkan bahwa saya mati dan segera ditahlilkan.
Para warga pun terus bersaha menggali jasadku. Karena kelaurga saya ingin memakamkan saya, yang menurut mereka sudah mati. Namun yang terjadi pada saya di bawah (terkubur), saya baru terkubur kurang dari satu jam.
Barulah saya sadar … ada sebuah misteri yang sudah terjadi pada diri saya. Saya segera bersujud kepada Allah. Setelah itu, saya berjanji tidak akan menggali timah lagi. Saya pun menuruti ajakan pak kades. Kini … saya sudah punya beberapa hektar ladang yang kami olah sekeluarga. |