|
MALING YANG DILINDUNGI ALLAH
Namaku Hendrik. Aku adalah mantan anggota gerombolan perampok KAPAK MERAH. Sejak remaja aku sudah hidup di dunia hitam. Aku keluar dari KAPAK MERAH sejak aku menikah dengan mantan pelacur yang tobat. Istriku bernama Wati. Dialah wanita yang selalu mendorongku untuk berhenti merampok. Aku pun berhenti melakukan berbagai kejahatan. Aku ingin menjadi orang baik-baik seperti semangat istriku yang telah bertobat. Ya, meskipun aku belum bisa menjalankan ibadah seperti dia.
Lima tahun lebih aku mencari nafkah dengan jalan yang halal. Hingga suatu ketika usahaku mengalami pailit. Aku bangkrut. Anakku sakit parah. Aku tidak punya biaya untuk bayar rumah sakit. Kontrakan juga sudah telat 4 bulan belum dibayar. Pada saat itu aku bertemu Panthe, temanku dulu di KAPAK MERAH. Panthe juga sudah keluar dari KAPAK MERAH. Tapi Panthe masih melakukan kejahatan-kejahatan kecil. Panthe mengajakku untuk mencuri. Aku bimbang. Aku bingung memilih antara tetap bertahan menjadi orang bener dan kebutuhan yang mendesak.
Panthe berhasil membujukku. Naluri perampokku bangkit kembali. Aku ahli dalam membobol kunci dan mengatur strategi. Aku tahu semua sindikat jaringan para perampok. Sedangkan Panthe adalah perampok yang berani dan kejam. Dia juga punya banyak jimat agar kami bisa lolos dari kejaran polisi.
Sebulan sudah aku dan Panthe menjadi duo pencuri yang ulung. Istriku tidak pernah tahu pekerjaanku ini. Aku tidak berani berterus terang padanya. Nuraniku sebenarnya juga berontak untuk meninggalkan pekerjaan ini. Apalagi aku melihat Panthe membunuh salah satu korban pencurian kami. Aku berjanji dalam hati bahwa aku akan berhenti kalau uang yang kami butuhkan sudah cukup.
Sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Malam itu kami sedang apes. Warga kampung memergoki kami. Kami berlari secepat mungkin. Sialnya, Panthe lupa mantra jimat penghilangnya. Warga berhasil menangkap kami. Tanpa tendeng aling-aling, warga pun menghakimi kami. Nampaknya mereka sudah sangat murka terhadap kami. Kami babak belur. Warga mengikatku dan Panthe di pohon yang berbeda. Panthe disiram bensin. Rupanya warga ingin membakar Panthe. Saat itu terbayang dalam benaku akan kematianku. Aku pun memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosaku. Aku memohon kepada-Nya agar diberi kesempatan untuk tobat. Aku berjanji kepada-Nya dalam hati, aku akan berhenti total melakukan kejahatan. Aku ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Aku mengucap istigfar berkali-kali. Mulutku terasa perih sekali ketika aku mengucap istigfar.
Gila! Benar saja dugaanku. Setelah Panthe basah oleh bensin, warga pun menyulutkan api ke tubuhnya. Aku menangis. Inilah pertama kalinya aku menangis. Aku menangis karena terbayang kobaran api neraka. Aku pun terus memohon ampun kepada Allah. “Ya, Allah berilah aku kesempatan untuk menjalani hidup yang Engkau ridhoi. Aku ingin tobat...”
Keanehan pun terjadi. Aku merasakan Allah begitu dekat denganku. Tiba-tiba tali yang melilitku di pohon melonggar. Aku mendengar suara yang sangat lembut di telingaku. “Larilah.... larilah... larilah....” Suara tersebut begitu dekat di telingaku. Aku pun lari sambil menahan sakit di seluruh tubuhku.
Aku berhenti di depan sebuah masjid. Suara lembut itu terdengar lagi. “Sholat... sholat... sholat....” Aku pun masuk ke masjid. Aku juga mendengar suara riuh warga dari kejauhan. Aku mempercepat langkah menuju masjid. Ini adalah pertama kalinya aku masuk masjid. Aku merasa tidak pantas memasukinya. Aku berniat untuk tidak jadi ke masjid. Tapi kakiku merasakan sakit yang luar biasa setiap aku berbalik arah. Dalam mataku juga terlintas kebrutalan warga menghakimiku. Anehnya, kakiku bisa berjalan lancar bila aku mengarah ke masjid.
Aku berjalan menuju tempat wudhu. Aku pun berwudhu. Sungguh aku tidak tahu apakah wudhuku itu benar atau tidak. Selesai wudhu aku masuk masjid. Lagi-lagi aku merasa tidak pantas. Air mataku menetes. Suara lembut itu terdengar lagi. “Sholat... sholat... sholat....”
Sholat...?! Sungguh aku tidak bisa sholat. Aku tidak tahu caranya. Aku tidak hafal doa-doanya. Lalu muncul dalam benakku, aku pernah membaca buku panduan sholat Wati. Aku ingat pernah membaca tentang sholat tobat. Hanya dua rokaat. Tapi bagaimana doa-doanya. Aku pun nekad mendirikan sholat di pojok paling belakang masjid. Setelah aku mengucap takbir, aku mendengar gaung suara “Lailahailallah... Lailahailallah... Lailahailallah....” terdengar begitu banyak orang. Aku menghentikan sholat. Suara itu tidak lagi terdengar. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapapun. Aku pun melanjutkan sholat. Suara gaung tahli itu terus terdengar. Aku tetap meneruskan sholat dengan mengikuti ucapan gaung tahlil yang kudengar. Aku menangis deras.
Setelah salam pada rokaat terakhir, suara gaung tahlil itu menghilang. Aku melihat warga berkerumun di luar masjid. Aku pun berusaha bangkit. Tapi tulang-tulangku serasa remuk. Sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya terbaring lemah. Aku pasrah. Beberapa warga masuk ke dalam masjid. Aku terus mengucap tobat dan memohon kesempatan hidup lagi kepada Allah. Pandanganku kabur. Aku setengah sadar.
Dalam remang-remang aku melihat beberapa warga. Suara gaung tahlil terdengar lagi. Samar-samar aku melihat orang-orang berpakaian gamis putih-putih mengelilingiku. Aku mencium bau harum. Aku pikir mereka adalah malaikat yang akan mencabut nyawaku. Aku pingsan.
Aku disadarkan oleh suara adzan shubuh. Anehnya, aku sudah berdiri di depan pintu masjid. Aku melihat orang-orang akan sholat. Aku takut mereka akan melihatku. Tiba-tiba suara lembut terdengar. Suara itu menyuruhku sholat. Seorang jamaah melintas di depanku. Jamaah itu mengabaikanku, seolah-olah tidak melihatku. Aku mengikuti jamaah tersebut untuk berwudhu. Aku mengikuti caranya berwudhu sambil sekali-kali menoleh kepadanya. Aku takut ia akan menyergapku tiba-tiba.
Selesai wudhu, aku masuk ke masjid. dan.... JRENG! JREENG! JREEEENG!!! Aku melihat tubuhku tergeletak di pojok masjid. Aku berpikir, apakah aku sudah mati? Suara lembut kembali menyuruhku sholat. Aku sholat shubuh berjamaah. Dalam sholat aku terus menangis. Hingga salam rokaat terakhir, aku kembali tak sadarkan diri.
Ketika aku sadar kembali, ternyata aku sudah ada di atas tempat tidur. Aku melihat istri dan anakku. Aku juga melihat dua orang polisi. Ternyata aku masih hidup. Aku langsung menangis memeluk istriku. Aku mengatakannya padanya, aku benar-benar ingin tobat.
Setelah sembuh, polisi membawaku kepenjara. Hukumanku diperingan. Aku banyak membantu polisi membongkar sindikat KAPAK MERAH dan semua jaringan perampok. |