|
1. Sang Pengemis
Nek Ating memiliki segenggam cabai yang dipetiknya dari kebun. Nek Ating lalu membawa cabai itu untuk dijual ke orang-orang, namun tidak ada orang yang mau membelinya. Sampai-sampai ada orang yang tega mengambil cabai itu dan membantingnya ke tanah. Nek Ating kemudian memunguti cabai itu dan kembali menawarkan cabai rawitnya hingga layu dan hampir kering.
Akhirnya ada sepasang suami istri yang membeli cabai itu dengan harga sepuluh ribu rupiah. Nek Ating berpesan agar cabai itu tidak dikunyah dan disemburkan ke muka orang karena akan menyebabkan mata orang yang kena jadi buta. Ketika datang perampok, si lelaki yang membeli cabai itu mengunyah cabai itu dan menyemburkan ke muka perampok. Dan benar, mata perampok itu pun jadi buta seketika. Si suami istri itu takjub dan segera mencari si nenek untuk memberinya banyak uang.
2. Tibanya Ajal Sang Perampok
Darkim adalah mantan perampok, dia kemudian sakit dan tiada orang yang mau merawat dirinya, termasuk istri Darkim. Akhirnya, karena kasihan Dahlan dan istrinya yang hidup miskin mau merawat Darkim dengan membawanya ke rumah mereka. Darkim sebelum meninggal kemudian memberikan cek pada Dahlan sebagai wasiat yang nilainya mencapai dua ratus juta rupiah.
Dahlan dan istrinya kemudian membawa cek itu ke Nyonya Margaret, dan benar saja, cek itu benar-benar bisa diuangkan senilai dua ratus lima puluh juta rupiah. Dahlan dan istrinya pun sangat bahagia, hanya istri Darkim yang menyesali saja kelakuannya.
|