|
1. Kekuatan Doa
Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang.Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.
John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. \\\\\\\"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.\\\\\\\"
John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. \\\\\\\"Anda tidak mempunyai kartu kredit, Anda tidak mempunyai garansi,\\\\\\\" alasannya.
Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: \\\\\\\"Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.\\\\\\\"
Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, \\\\\\\"Tidak perlu,Pak.Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis.\\\\\\\"
\\\\\\\"Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?\\\\\\\"
\\\\\\\"Ya, Pak. Ini,\\\\\\\" katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.
\\\\\\\"Letakkanlah daftar belanja Anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan Anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.\\\\\\\"
Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat kebawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, \\\\\\\"Aku tidak percaya pada yang aku lihat.\\\\\\\"
Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.
Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: \\\\\\\"Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.\\\\\\\" Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.
Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa. Kekuatan sebuah doa.
2. Seikat Bunga Untuk Suami
RAHMA sakit-sakitan sejak suaminya meninggal. YUAN, anaknya yang sudah berkeluarga, tidak henti-hentinya membujuk sang ibu agar melupakan kesedihan itu. Tapi, bukannya hilang, malah rasa putus asa semakin menjadi. Bahkan, RAHMA merasa hidupnya akan segera berakhir. Penyakitnya semakin parah.
Lalu, RAHMA berpikir sebentar lagi dia akan bertemu dengan suaminya di alam kematian. Karena itu, dia berniat mengirimkan bunga ke kubur suaminya, untuk menunjukkan betapa rindunya dia kepada sang suami. Tapi karena kondisi RAHMA sangat buruk, dia hanya mengirim uang kepada tukang bunga melalui seorang pesuruh. Kepada tukang bunga itu, dia meminta mengantarkan seikat bunga ke makam suaminya.
Aneh bin ajaib, sejak RAHMA mengirim uang untuk bunga-bunga itu, berangsur-angsur penyakitnya sembuh. Hatinya mulai tenteram. Kondisi kesehatannya meningkat pesat. Dia bahkan sudah bisa berjalan-jalan dan keluar dari ruang perawatan.
Suatu hari, ketika dirasanya sudah cukup sehat, dia meminta YUAN mengantarkannya ke makam suaminya. RAHMA kaget saat tiba di makam suaminya, tidak ada satu pun bunga di sana. “Padahal, setiap hari, aku mengirim uang kepada tukang bunga dan memintanya mengantarkan seikat bunga ke makam ayahmu. Supaya ayahmu tahu, setiap hari aku mengenangnya.”
Dengan kesal, RAHMA mencari tukang bunga. Tukang bunga menjawab, “Ooh… jadi Ibu yang selama ini mengirim uang itu? Maaf, saya memang tidak mengantarkan bunga ke makam suami Anda. Sebab, saya pikir, orang yang sudah meninggal tidak akan bisa menikmati keindahan bunga tersebut. Karena itu, saya mengirimkan bunga-bunga pesanan Anda ke rumah sakit, ke panti asuhan, ke panti jompo, dan kepada orang-orang yang sedang dirundung kesedihan. Dengan bunga-bunga kiriman Anda, mereka bisa mendapatkan kebahagiaan karena mereka merasa diperhatikan. Mereka selalu bertanya, siapa yang mengantarkan bunga ini? Dan saya selalu menjawab bahwa itu kiriman dari orang yang tidak dikenal yang selalu menyempatkan diri membahagiakan orang lain. Lalu, mereka semua berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan Anda, walaupun mereka belum pernah bertemu dengan Anda.”
RAHMA tersentuh dengan kalimat tukang bunga itu. Dia pun akhirnya tahu rahasia di balik kesembuhannya yang ajaib, yakni dari doa-doa orang yang tidak dia kenal.
|