|
Segment 1
Hutang Dilunasi
Bisri yang usianya sudah kian senja malah terkena PHK dari perusahaannya. Namun karena Bisri bekerja sebagai tenaga kerja kontrak, Bisri tidak memperoleh pesangon yang layak sebagai bekalnya untuk membuka usaha. Di saat keadaan sulit itu, Bisri ditagih hutang oleh Jamal. Bisri pun kemudian mengambil uang di ATM-nya sebesar Rp 1 juta. Saldo uangnya di ATM kini hanya tinggal Rp 500 ribu.
Saat pulang dari masjid bersama Zaenal, Bisri diminta sumbangan untuk pembangunan masjid. Dengan penuh keikhlasan Bisri menyumbang sebesar Rp 500 ribu. Zaenal sampai terheran-heran melihat Bisri menyumbang sebesar itu. Di jalan, Bisri melihat anak pengamen tertabrak motor. Si Penabrak kabur. Bersama Zaenal, Bisri membawa anak pengamen itu ke klinik. Di klinik, semua biaya mau tidak mau ditanggung oleh Bisri. Bisri harus membayar uang pengobatan dan perawatan sebesar Rp 500 ribu. Zaenal kemudian mengatakan pada Bisri bahwa semestinya Bisri tidak perlu melakukan semua itu.
Karena uangnya habis, Bisri mengajak Zaenal ke ATM untuk mengambil sisa uangnya. Bisri lalu mengambil Rp 300 ribu. Tanpa diduga, ketika Bisri melihat saldo di struk, saldo uangnya menjadi sebesar Rp 200.200.000. Bisri pun kaget. Namun tak berapalama masuk SMS yang mengabarkan bahwa patner bisnisnya sepuluh tahun lalu yang bernama Pak Budi baru saja membayar hutang. Pak Budi baru bisa membayar 50% dulu. Bisri pun sangat bersyukur pada Alloh.
Segment 2
Sepetak Tanah Membawa Berkah
H.Imam didatangi oleh Pak Koirun yang akan menjual tanahnya di puncak bukit. Pak Koirun sedang butuh uang untuk menebus biaya perawatan anaknya. Istri dan anak H.Imam menolak pembelian tanah di puncak bukit itu karena tidak strategis, lagi pula tanahnya juga tidak subur. Bahkan Bejo, seorang makelar tanah di desa itu juga tidak mau menjualkan tanah itu karena susah dijual.
Namun, H.Imam tetap membeli tanah di puncak bukit milik Pak Koirun itu. H.Imam membelinya dengan harga Rp 5 juta. H.Imam tidak berpikir letaknya yang strategis atau tidak, H.Imam hanya ingin menolong Pak Koirun yang sedang kesulitan. Tanpa diduga, datanglah seorang petugas dari sebuah perusahaan selular. Perusahaan seluler akan menyewa tanah di puncak bukit untuk dijadikan lokasi pemasangan pemancar. Perusahaan selular menyewa dengan harga Rp 75 juta dan akan disewa selama 10 tahun. Semua orang yang melarang H.Imam membeli tanah itu tertegun tidak percaya, H.Imam mengucapkan rasa syukur yang tiada terkira ke hadirat Ilaahi Robbi.
|