|
Subria dan Neneng tidak pernah menyangka kalau mereka akan dikarunia empat orang anak laki-laki yang bisa dibilang berwajah aneh. Sebagai pasangan yang normal, Subria dan Neneng tentu berharap semua anak-anaknya juga terlahir normal seperti mereka. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain.
Sejak awal menikah Subria dan Neneng selalu dirundung kesulitan. Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan dan pekerjaan Subria yang serabutan membuat keadaan mereka makin parah. Kadang Subria dan Neneng harus berpuasa karena memang tidak ada makanan buat dimakan dan juga ketar-ketir tiap akhir bulan bingung menghadapi pak Somad yang datang menagih uang kontrakan rumah mereka.
Tapi walaupun serba susah Subria dan Neneng tidak pernah ambil pusing. Keduanya tetap senang menjalani hidup. Buat Subria dan Neneng, asalkan mereka berdua terus bersama, hidup sesusah apapun akan terasa indah.
Namun kesulitan yang menimpa Subria dan Neneng makin terasa mencekik ketika Neneng hamil. Neneng tidak bisa lagi seperti dulu menahan puasa berhari-hari karena tidak ada makanan. Sekarang sudah ada jabang bayi dalam perut Neneng. Subria dan Neneng harus memikirkan kesehatan jabang bayi mereka.
Suatu hari Subria yang tidak tega melihat Neneng belum makan seharian pergi mencari sesuap nasi. Berbagai macam cara dilakukan Subria untuk mendapatkan uang. Dari pinjam uang sampai kerja menjadi kuli panggul di pasar. Tapi sepeserpun uang tidak berhasil ia dapat.
Subria jadi gelisah, cemas. Di tengah perjalanan Subria kemudian melewati sebuah empang. Di pinggir empang tersebut Subria lalu berdoa meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa. Selesai berdoa, Subria jadi tersentak girang karena secara tidak sengaja matanya kemudian melihat seekor ikan yang lagi menggelepar-gelepar di pinggir empang. Pikir Subria ikan tersebut pasti apes karena lompat terlalu tinggi dari dalam empang. Dengan hati girang Subri kemudian langsung menangkap ikan dan membawanya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Subria langsung menggoreng ikan mas dan mempersembahkannya pada Neneng, sang istri. Neneng makan dengan lahap. Jarang-jarang dia bisa makan ikan mas goreng. Dalam waktu singkat ikan mas goreng akhirnya tandas, tinggal tulang belulang doang. Di saat bersamaan tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki muncul di depan rumah Subria.
Laki-laki tersebut ternyata tetangga Subria yang kemudian langsung bertanya ke Subria, apa ia baru mengambil ikan mas dari dalam empangnya. Subria yang memang merasa tidak pernah mencuri langsung menjawab tegas “tidak”. Tapi tetangga Subria kembali mengulangi pertanyaannya. Karena kesal, Subria akhirnya bersumpah, “kalau saya memang mengambil ikan mas dari dalam empang bapak, biar sampai tujuh turunan anak saya wajahnya mirip ikan…!”. JGERRR…! Baru saja Subria, di langit tiba-tiba terdengar suara geledek padahal hari siang bolong. Subria tersentak kaget. Sementara istri Subria ketakutan.
Sampai malam hari istri Subria terus gelisah dan bertanya ke Subria, apa ia benar-benar tidak mencuri ikan tetangganya. Subria akhirnya mencoba kembali mengingat-ingat. Subria langsung tersentak kaget begitu sadar, ia memang tidak mencuri ikan, tapi tadi siang ia menemukan dan memungut ikan tersebut dari empang tetangganya. Istri Subria jadi ketakutan. Subria berusaha menenangkan dan bilang, sumpah yang ia ucapkan tadi siang tidak akan berpengaruh pada jabang bayi mereka. Tapi Neneng masih saja tetap khawatir. Selama mengandung Neneng terus ketakutan teringat sumpah yang diucapkan Subria.
Singkat cerita satu bulan kemudian Neneng akhirnya melahirkan. Dan ketakutan Neneng benar-benar menjadi kenyataan. Bayi yang dilahirkan Neneng memang sehat. Tapi aneh bin ajaib…! Wajah bayi tersebut mirip sekali dengan rupa ikan…!
Melihat kenyataan ini Neneng menangis sejadi-jadinya. Namun Subria kembali berusaha menenangkan Neneng sambil bilang, apapun yang terjadi mereka harus tetap membesarkan bayi tersebut. Neneng cuma bisa mengangguk pasrah.
Bayi Neneng dan Subria kontan menjadi gunjingan para warga. Ada yang iba, tapi ada juga yang sinis, bilang kalau Neneng dan Subria pasti kena kutukan makanya sampai punya anak yang berwajah mirip ikan. Neneng dan Subria berusaha tawakal.
Selang beberapa bulan kemudian Neneng kembali mengandung. Subria dan Neneng kembali ketakutan, takut anak mereka yang kedua kembali berwajah seperti ikan. Benar saja, anak kedua Neneng dan Subria juga berwajah seperti ikan. Neneng makin terpukul. Apalagi ketika ia melahirkan anak ketiga dan anak keempat yang kesemua wajahnya juga mirip ikan. Neneng shock berat. Karena tidak tahan menanggung beban, Neneng akhirnya jatuh sakit dan meninggal. Subria mulai goncang. Batinnya benar-benar terpukul ditinggal orang yang sangat dicintainya.
Cobaan kembali menerpa Subria. Pak Kadir dan istrinya (tetangga Subria) yang dengki, menghasut warga untuk mengusir Subria dari kampung mereka. Bu Kadir bilang ke para warga, keluarga Subria pasti kena kutukan. Kalau mereka tidak segera mengusir Subria, maka mereka semua akan kena kutuk seperti Subria. Warga langsung termakan hasutan dan akhirnya ramai-ramai menyatroni rumah Subria.
Sesampainya di rumah Subria, warga yang emosi hampir saja menghakimi Subria dan anak-anaknya. Beruntung di saat bersamaan ustadzah Siti muncul, menenangkan warga dan menyuruh semua bubar.
Mendapat cobaan yang beruntun Subria hampir bunuh diri. Tapi ustadzah Siti kembali datang menolong dan mencegah Subria dari usaha bunuh diri. Sambil menangis Subria kemudian curhat pada ustadzah Siti, bilang kalau tidak ada gunanya lagi ia hidup. Istrinya sudah meninggal, sementara keempat anaknya terlahir cacat. Bukannya iba, ustadzah Siti malah membentak marah Subria. Terakhir ustadzah Siti mengingatkan Subria ; Bunuh diri adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah. Dan keempat anak Subria bukanlah anak-anak kutukan. Subria harus bisa menerima mereka dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang.
Subria tersentak sadar. Semangatnya kembali timbul. Dengan penuh kasih sayang ia lalu merawat keempat anaknya tersebut. Tapi ini ternyata memang tidak mudah. Keempat anak Subria yang masing-masing bernama Dion, Abeng, Deden dan Asep kerap mendapat hinaan dari teman-teman dan orang-orang di lingkungan mereka. Tak jarang mereka hampir putus asa menghadapi hidup. Namun Subria terus menyemangati mereka dan bilang ; hidup memang kejam. Tapi tidak sepantasnya mereka menyerah. Mereka harus tetap berjuang sambil bersyukur kepada Sang Maha Kuasa.
Nasihat Subria akhirnya menjadi pegangan buat keempat anak Subria. Keempatnya tumbuh menjadi anak yang tegar dan tabah. Tahun demi tahun berlalu… Keempat anak Subria pun tumbuh besar. Subria terus menanamkan prinsip kepada mereka untuk menjadi orang yang tidak cengeng dan mandiri. Hasilnya ; anak pertama Subria sekarang sudah mendapatkan istri dan mempunyai seorang anak yang tampan dan normal. Begitu juga anak yang kedua. Sementara anak Subria yang ketiga dan keempat masing-masing duduk di bangku kuliah dan SMA. Keduanya sangat cerdas dan masing-masing berprestasi di kampus dan di sekolah mereka…
|