|
Malang benar nasib yang harus dialami oleh Manaf (bukan nama sebenarnya). Tak hanya harus menderita penyakit kulit yang tidak kunjung sembuh, ia juga harus menerima kenyataan ditinggal oleh isteri dan ketiga anak yang disayanginya. Tidak hanya itu, kini, setelah menjual rumah miliknya, ia juga tidak memiliki tempat tinggal dan mengharapkan belas kasihan orang lain hanya untuk sesuap nasi.
Manaf yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit bekerja seperti biasanya, melayani para langganan. Akan tetapi karena ada saingan, langganan Manaf berkurang. Selain itu, karena Manaf dengan semena-mena menaikkan ongkos menjahitnya. HASNAH, istrinya, kesal karena penghasilan Manaf berkurang. Sementara ketiga anaknya menuntut uang jajan lebih besar. Terlebih anak tertua, RINI, yang sudah duduk di bangku SMA.
Namun suatu hari Manaf memberikan uang lumayan besar. Saat Hasnah menanyakannya dari mana, Manaf bilang istrinya tak perlu tahu. Yang penting halal. Hasnah pun senang dan mengajak ketiga anaknya belanja.
Malamnya, selesai mandi Manaf merasakan kepalanya gatal. Saat menggaruknya, Manaf kaget karena kulit kepalanya terkelupas. Manaf bingung kenapa kulit kepalanya terkelupas. Manaf mengira itu ketombe biasa. Tapi keesokan harinya, saat bangun tidur, Hasnah yang tidur di sebelahnya tak tahan dengan bau dari kepala suaminya. Manaf disuruh ke kamar mandi dikira bau karena kemarin sore mandi tidak bersih. Tapi belum beranjak ke kamar mandi, Manaf dan Hasnah kaget saat melihat tangan Manaf bersisik. Manaf segera berlari ke kamar mandi dan memeriksa bagian tubuh lainnya. Manaf buru-buru mandi.
Selesai mandi, Manaf semakin bingung karena tidak hanya tangan, tetapi sisik itu menyebar ke bagian tubuh lainnya seperti pergelangan kaki dan perut serta dada. Manaf dan istrinya mengira kalau penyakitnya ini hanya penyakit biasa. Maka Manaf tetap bekerja seperti biasanya. Akan tetapi, Manaf tak memungkiri bila bau menyengat menyebar kemana-mana dari bagian kulitnya yang bersisik.
Para tetangga terdekat mulai mencium bau sisik dari kulit Manaf. Langganan menjahit Manaf pun tak mau lagi berlangganan dengan Manaf. Akhirnya Manaf benar-benar bangkrut. Hasnah segera membawa Manaf ke puskesmas. Manaf mendapat obat dari dokter puskesmas, tetapi sisik di kulit Manaf tidak sembuh dan malah menyebar ke wajah. Manaf ingin kembali berobat tetapi tak ada biaya.
Rini, anak tertuanya kesal saat teman cowoknya main ke rumah, menemui bapaknya yang bersisik. Rini lalu pergi dari rumah, menetap di rumah sang nenek. Kakek Rini, Orangtua Manaf, tak begitu memperdulikan keadaan Manaf saat Rini bercerita. Hal itu karena Manaf sendiri telah memarahi dan memaki-makinya. Mereka sakit hati kepada Manaf.
Sementara itu, lama kelamaan Manaf dan istri serta anak-anaknya yang lain semakin sengsara. Hasnah dan kedua anaknya yang masih tinggal besama Manaf tak tahan lagi, mereka pergi meninggalkan Manaf ke rumah orangtua Hasnah karena tak kuat menanggung malu. Sebab Manaf menjadi bahan pembicaraan orang-orang kampung, karena sisik di kulit tubuhnya.
Manaf akhirnya menjual rumahnya untuk berobat. Sebagian uangnya ia titipkan pada temannya untuk modal berbisnis, biar ada simpanan karena ia sudah tak mungkin lagi bekerja. Manaf kos di sebuah kos-an yang sempit. Hal itu pun menjadi cibiran para tetangga kosan. Manaf mau diusir, tapi dipertahankan oleh pemiliknya karena Manaf mau membayar kos-an lebih mahal.
Sambil mempertahankan hidup dengan sisa uang simpanannya, Manaf terus berjuang sembuh dengan berobat ke dokter. Menurut dokter spesialis kulit, penyakit Manaf bernama Psoriosis. Tetapi penyakit itu tak jua sembuh meski sudah menghabiskan banyak uang. Lama-lama Manaf tak lagi bisa berobat karena uangnya habis. Saat Manaf menanyakan uang yang ia titipkan pada temannya untuk berbisnis itu, ternyata bisnis temannya mengalami kebangkrutan.
Manaf pun tak lagi punya tempat tinggal. Manaf tidur dimana saja, bahkan di trotoar toko. Itupun kalau tak ada yang merasa terganggu karena bau dari kulitnya yang bersisik. Tak jarang orang ketakutan mengira Manaf makhluk luar angkasa atau alien, karena wajah dan kulit kepalanya terkelupas dan bersisik. Untuk menyambung hidup, kadang Manaf meminta belas kasihan orang lain untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi.
Manaf mencoba menumpang pada Nining, saudara iparnya yang menjadi kuli cuci. Tetapi karena keuangan Nining yang kembang kempis, Nining merasa keberatan dan terpaksa mengusir Manaf. Selain itu, karena Nining malu kulit Manaf berisisik dan bau. Manaf diminta pulang saja ke rumah orangtua, tapi Manaf tidak mau.
Manaf pun kembali ke jalanan. Semakin lama penyakit kulit yang diderita Manaf semakin parah. Orang-orang tak ada lagi yang mau menerimanya. Salah seorang yang mengenali Manaf meminta Manaf pulang ke rumah orangtuanya. Tetapi Manaf tidak mau. Manaf teringat pertemuan terakhir dengan kedua orangtuanya, yakni saat ia membentak karena dituduh mengambil uang.
Manaf waktu itu bersumpah, bahwa dia tak mengambil uang tersebut. Bahkan ia berani bersumpah ia akan memiliki kulit bersisik dan perut buncit jika ia memang mencuri. Meski Manaf tidak pernah terbukti mencuri, ia justru memiliki penyakit yang serupa dengan sumpahnya di masa lampau.
Dengan menggunakan tongkat, Manaf terus berjalan tak tentu arah, entah ke mana. Orang-orang yang melihatnya menjauh karena risih dan jijik. Hingga pada akhirnya Manaf terjatuh. Manaf pun dibawa paksa ke rumah orang tua oleh seseorang yang masih mengenalinya.
Di rumah orangtuanyalah Manaf sekarat, namun masih bisa berbicara dengan susah payah. Manaf mau mengakui kesalahannya, bahwa ia pernah mencuri uang orangtuanya demi tuntutan keluarga. Hasnah beserta ketiga anaknya yang ada di dekat Manaf, setelah mendapat kabar tentang keadaan Manaf, menyesali perbuatan ayahnya. Setelah Manaf mau mengakui perbuatannya, Manaf pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang...***
|