search :

LETIH MENCARI KEADILAN

YANTI (25) terjatuh di sudut kamar. Tangisnya pecah. Pipinya lebam membiru. Dia bertengkar hebat dengan Abdul (45) suaminya yang bertubuh tinggi besar yang baru dinikahinya empat tahun. Kedua anaknya Nunik (4) dan Danti (2) hanya bisa menangis. Abdul lalu merampas surat nikah dan pergi tanpa pernah kembali. Terbayang kembali oleh Aryanti ketika dia dilecehkan oleh Abdul hingga dia hamil dan dijadikan istri kedua. Serta perlakuan suaminya yang kasar.

 

Teror pun sering datang menimpa Yanti agar Yanti menjauhi meninggalkan daerah itu dan jangan sampai mendekati Abdul.
Puncaknya, YANTI dibawa ke sebuah kantor dan dipaksa untuk menandatangani tumpukan surat yang tidak boleh dibaca terlebih dahulu olehnya. “Waktu itu, orang-orang Kodim membentak-bentak saya agar menandatangani surat-surat tersebut. Meja pun digebrak-gebrak agar saya langsung menandatangani saja tanpa dibaca terlebih dahulu. Karena ketakutan, saya pun akhirnya menandatangani saja tumpukan surat-surat tersebut,” urai wanita kelahiran Jakarta, 6 Januari 1963 ini.
 
Ternyata tumpukan surat itu adalah surat cerai. Surat nikah pun dirampas oleh mereka sehingga Yanti sulit mengurus akta kelahiran Nunuk dan Danti. Tanpa nafkah dari mantan suaminya, kini bapak Yanti yang harus menanggung semuanya. Tapi, suatu hari sang ayah pulang dalam keadaan terkapar karena serangan stroke dan tak lama kemudian sang ayah meninggal. Ternyata sang ayah pergi menemui Abdul dan karena tak kuat mendapat tekanan, sang ayah jatuh stroke.
 
YANTI lalu pindah rumah dan anak-anaknya mulai sekolah. Dia berjualan makanan, tapi karena tak cukup, dia pun menerima pinjaman dari kawan baiknya bernama Yana. Ternyata pinjamannya menumpuk hingga Rp 44 juta. Saat suami Yana tahu dia marah besar dan meminta Yanti membuat perjanjian tertulis, jika pada waktu yang ditentukan dia tak dapat membayar hutangnya, kedua anaknya harus diserahkan.
 
Ketika waktunya pembayaran tiba, Yanti jadi kalut. Dia tak mungkin menyerahkan kedua anaknya sebagai pembayar hutang. Yanti kabur membawa kedua anaknya dan bersembunyi di rumah teman baiknya yang lain. Di sini dia mulai ditemani kakaknya.
 
YANTI juga mulai terkena penyakit berat. Dia sering mengalami pendarahan dan perutnya membengkak seperti orang hamil. Tapi, karena tak punya biaya, YANTI tidak berobat ke dokter. Ditemani kakaknya, YANTI menuntut keadilan agar suaminya mau memberi nafkah untuk kedua anaknya, tapi berbagai upaya itu tidak membuahkan hasil. Tapi, Yanti tidak menyerah. Dia berjuang kesana kemari agar kedua anaknya mendapat beasiswa karena otak mereka lumayan encer. Tapi, kali ini Yanti harus menyerah. Akhirnya kedua anaknya harus putus sekolah.
 
Penderitaan YANTI semakin bertambah ketika kakaknya yang sudah tua merasa tak sanggup lagi membantunya karena tenaganya yang mulai melemah. Sementara penyakit YANTI semakin ganas. Bengkak di perutnya makin membesar, pendarahannya semakin sering. Dia hanya mengobati memakai obat PK murahan dari apotik atau terkadang cukup baca doa dan ditiupkan ke dalam air lalu diminumnya. Saat dia periksa ke Puskesmas dokter mendiagnosa, Yanti terkena kanker rahim.
 
 
 
 

Pemain

Bella Safira, Chandra Setiawan, Clara Dewinta, Anita Nurbuwati, Babeh Aswan, Ervina

Wallpaper

Jadwal Tayang

MingguSeninSelasaRabuKamisJumatSabtu
- - - - 13 November 2008
20:00 - 22:00
- -


© Copyright 2008 - PT. Lunar Jaya Film