|
JANGAN JADIKAN ANAKKU PENGEMIS
Aku seorang single parent. Tiga tahun yang lalu suamiku menceraikanku, karena terpikat oleh perempuan lain dan memilih hidup dengannya. Ia meninggalkan aku dan Dinda, anak kami semata wayang yang masih berumur 4 tahun. Aku berusaha tabah menerima kepahitan dalam hidupku. Aku berusaha tegar. Untungnya aku punya pekerjaan dan karir yang cukup baik di kantor, yang dapat menghilangan kesepianku selama ini.
Tapi alangkah hancur hatiku, di saat aku berjuang untuk menghidupi anakku, Dinda anakku semata wayang justru jadi pengemis di pinggir jalan. Masyaalloh. Ia dijadikan pengemis oleh Mini, pembantuku sendiri.
Beginilah kisahku.
Sejak ditinggalkan oleh suami yang kucintai, hatiku terpukul. Hatiku hancur. Seakan hidup tidak ada artinya lagi bagiku. Untung aku masih ingat anakku, Dinda, 4 tahun. Anak perempuan yang cantik yang mampu menenangkan hatiku. Semangatku bangkit demi Dinda. Aku kembali bergairah bekerja.
Karena Mbok Min, pembantuku minta berhenti dan pulang kampong, terpaksa aku mencari penggantinya. Tapi tidak mudah mencari pembantu. Hingga suatu hari datang dua orang perempuan menawarkan jasa menjadi pembantu. Karena tidak punya banyak waktu, akhirnya aku menerima mereka berdua bekerja. Seorang menjadi pembantu dan seorang lagi mengurus Dinda.
Hari-hariku berjalan lancer. Sepertinya pembantuku dapat dipercaya. Apalagi aku juga mengantongi KTP mereka. Aku bekerja sampai sore. Kadang pulang selepas magrib karena kemacetan di jalan. Sampai di rumah Dinda selalu sudah tidur.
Kadang aku pulang lebih malam. Karena bertemu teman lama atau sekedar makan malam bersama kenalan. (oya, aku mulai dekat dengan Idam, seorang duda beranak 1). Kami sering makan bersama selepas kantor. Seperti biasa, tiap pulang anakku sudah tidur.
Tapi aku curiga, kenapa anakku bertambah hitam kulitnya. Kata pembantuku, Dinda suka main di halaman. Aku percaya saja. Bertambah hari, bertambah hitam kulit anakku. Ia juga batuk-batuk dan radang pernafasan. Aku membawanya ke dokter dan dokter mengatakan anakku harus dijauhkan sementara dari debu.
AKu pesan sama pembantuku agar Dinda tidak boleh lagi main di halaman. Pembantuku mengangguk.
Tapi ada hal lain yang membuatku semakin curiga. Mental anakku seakan terganggu. Dia mulai ketakutan di rumah sendiri. Setiap aku berangkat kerja, Dinda selalu menangis histeris. Menjerit dan melarang aku pergi. Pembantuku selalu bisa mengelabuhi aku dengan mengatakan Dinda mulai kolokan. Bahkan agar bisa diam Aku sering membentak dan memarahi Dinda. Anakku semakin shock.
Aku tidak pernah menyangka, kalau ternyata, setiap hari anakku dijadikan pengemis oleh pembantuku. Setiap hari, ketika aku berangkat kerja, Dinda dibawa kejalanan, dikenai pakaian lusuh dan disuruh mengemis seharian. Pulangnya dicekoki obat supaya tidur. Kalau dinda menolak atau meronta, dinda dihukum, diguyur di kamar mandi, disuapi makanan panas dan berbagai siksaan lainnya. Selama mengemis dinda tidak diberi makan supaya kelihatan memelas dan lemah. Dinda tidak berani melapor karena diancam oleh kedua pembantuku itu.
Seorang sahabatku pernah melihat dan memberitahukan hal ini padaku. Tapi dia sendiri ragu, jangan-jangan salah lihat. Dan aku pun tidak percaya.
Hingga suatu hari terjadi kecelakaan. Dan anakku harus dibawa ke rumah sakit. Pembantuku mengatakan kalau Dinda terserempet motor saat bermain di jalan depan rumah.
Untungnya secara tidak sengaja aku menemukan kartu nama di kamar pembantuku. Kartu nama orang yang menyerempet anakku waktu mengemis di jalanan. Aku mencoba menghubungi dia, dan dia bersedia bertanggung jawab. Aku bertemu dengan orang itu di rumah sakit. Dia yang menceritakan kalau anakku sedang mengemis saat kejadian. Aku terkejut, shock, hamper pingsan.
Sementara di rumah, kedua pembantuku sudah siap kabur sambil membawa beberapa perhiasan. Untungnya Pak RT yang tinggal di sebelah rumahku tanggap dan melihat gelagat yang tidak baik pada pembantuku. Ia meringkus kedua pembantuku saat berusaha kabur.
Ya Alloh, terimakasih, engkau masih menyelamatkan anakku. Sekarang aku akan lebih hati-hati. Aku juga berpesan kepada kalian yang selalu meninggalkan anak di rumah bersama pembantu. Waspadalah. Jangan sampai penderitaan Dinda terjadi pada kalian.
|