|
Namaku Budi (10). Kini aku mendekam di penjara Anak Laki-laki Tangerang. Aku adalah korban dari kejahatan para preman yang telah membunuh bapakku. Bisa kau bayangkan bagaimana sakitnya hatiku. Bapakku dibunuh oleh para preman di depan mataku dan akulah yang telah dituduh membunuh bapakku. Hingga akhirnya aku diseret dan dijebloskan ke dalam penjara. Beginilah kisah hidupku.
Bapakku Pak RAJIMAN (45) seorang pedagang sayuran di pasar induk. Sedangkan ibuku bekerja sebagai ibu rumah tangga mengasuh aku dan kedua adikku. Bapakku biasa berjualan di pasar pada malam hari. Sering aku melihat bapak pulang kelelahan mengayuh sepeda bututnya yang berisi banyak dagangan sayuran. Kadang pula bapak pulang dengan kesal karena sering menjadi bahan pemerasan para preman, padahal pungutan dari aparat pun lumayan banyak. Bapak kadang emosi, tapi ibuku menyabarkan bapakku.
Aku sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Aku selalu jadi juara kelas, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan. Mulai dari tingkat kanak-kanak hingga SD. Nilai matematika pun bagus. Semua teman sayang padaku. Begitu juga guru dan para tetanggaku. Mereka sering menyuruh anak-anaknya agar mencontoh diriku. Bapak dan ibuku juga bercita-cita agar aku nanti bisa sekolah sampai kuliah. Bapakku sudah bertekad akan bekerja sekeras mungkin agar aku bisa jadi sarjana.
Tapi, akhir-akhir ini usaha bapakku makin menurun. Karena bapak sering jadi korban penertiban, sehingga saat berdagang harus main kucing-kucingan dengan petugas. Tak jarang dagangannya dirampas atau sayurannya hancur kecebur selokan atau busuk karena terlalu lama disembunyikan. Kadang pula bapak harus membagikan kepada tetangga karena tidak ada tempat jualan. Bapakku jadi pusing karena dia juga terlibat hutang dengan rentenir untuk nombokin modalnya.
Keadaan sulit itu ditambah ulah para preman yang terus menaikkan uang keamanan. Bapakku kadang menolak, maka dia pun dipukul para preman. Besoknya ada lagi kejadian yang lain. Ketika pungutan makin membesar dan memaksa, bapak sudah membulatkan tekad. Dia menolak membayar uang keamanan dan adu mulut dengan para preman. Saat itu aku kebetulan ikut bapak ke pasar. Rupanya para preman itu gelap mata. Mereka menusukkkan pisau ke perut bapakku dan bapakku jatuh tersungkur dan tewas di tempat.
Aku meraung dan menubruk jenasah bapakku. Aku marah dan menantang para preman. Tapi mereka justru menuduh akulah yang membunuh bapakku. Ketika polisi datang aku pun diseret ke penjara.
Setelah melalui sidang yang membuat aku frustasi akhirnya aku divonis penjara selama 10 tahun. Saat aku pertama kali masuk, aku pun dikerjai oleh para senior. Ada saja ulah mereka, mulai menyuruhku lompat jongkok sampai mencium ketek, mulai menguras kamar sampai tidur sambil berdiri.
Awalnya ibu sering mengunjungiku dan membawa makanan, meskipun makanan itu sering dirampas teman-temanku. Ibuku sedih dan tampak tua. Aku juga sedih dan selalu menangis karena aku ingin pulang. Aku meyakinkan ibuku kalau aku tidak bersalah. Ibu percaya tapi ternyata para tetangga tidak percaya. Mereka menuduh aku penjahat, anak durhaka dan ibuku pun dikucilkan. Aku jadi putus asa.
Aku mau kumpul sama ibuku. Mengunjungi makam bapakku. Tekadku sudah bulat. Aku harus melarikan diri dari tempat ini. Aku berpikir berhari-hari bagaimana caranya melewati penjagaan yang ketat itu. Aku melihat setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Diam-diam suatu pagi, aku menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Akhirnya aku berhasil keluar dari penjara.
Untuk sampai ke rumahnya yang lumayan jauh, aku harus berpikir lagi karena aku tidak punya uang. Maka, aku pun numpang mobil omprengan, kadang jalan kaki, numpang truk dan lainnya hingga sampai ke rumahku. Aku pun senang dapat bertemu ibuku. Tapi baru beberapa jam di rumah, petugas Lapas datang menjemputku. Aku sedih dn tak mau kembali. Sambil menangis ibuku membujuk agar aku kembali.
Beberapa bulan kemudian aku sudah kangen sama ibuku. Aku mau pulang. Aku bingung bagaimana caranya untuk keluar. Akhirnya aku membaca artikel dan aku tahu bagaimana agar aku keluar dari tempat ini. Setiap dapat jatah tape uli, aku mengoleskan tape itu ke dinding. Kulakukan terus menerus selama empat bulan. Hingga akhirnya aku dapat membobol dinding penjara dan aku pun kabur lagi. Pulang ke rumah ibuku. Baru beberapa jam di rumah, petugas kembali menjemputku dan mengajakku kembali ke penjara.
Pelarianku yang ketiga, aku lakukan dengan memakai besi pegangan ember. Aku congkel kunci dan gembok lalu tengah malam aitu aku bersembunyi di ruang Kalapas. Dan ketika pagi tiba, aku pun sudah berada di atas truk menuju ke rumahku. Kali ini aku bisa menginap karena tidak ada petugas Lapas yang menjemputku.
Rupanya Kalapas tahu aku akan kembali lagi. Maka, setelah rasa kangenku pada ibu dan kawan-kawanku tuntas, tiga hari kemudian aku kembali ke Kalapas.
Ibu Kalapas dan para petugas sudah menungguku dan mereka rupanya tidak memarahahiku. Lantas aku menyerahkan surat untuk Ibu Kalapas. Bunyinya:
”Ibu kepala Budi minta maaf, tapi Budi kangen sama ibu Budi, makanya Budi pulang.”
Dan kini aku masih mendekam di Lapas. Aku melanjutkan sekolah di sini. Dan aku pun masih sering keluar sebagai juara. Aku tak hanya belajar di kelas. Aku juga belajar ketrampilan, seni dan kehidupan. Semoga setelah aku keluar penjara, aku masih bisa menjemput masa depanku. (The End)
|