|
IBUKU YANG TERPASUNG
RATNA dan GALIH adalah sepasang suami istri yang sering bertengkar. Pertengkaran tersebut kerap terjadi di depan putra-putrinya, FADLAN dan LALA. Pertengkaran tersebut dipicu oleh kehadiran INDRI, perempuan cantik dan seksi yang bekerja satu kantor dengan Galih. Setiap kali ayah dan ibunya bertengkar, Lala hanya bisa diam dan menangis. Lala kasihan dengan ibunya yang selalu jadi pelampiasan kemarahan ayahnya.
Berbeda dengan Lala, FADLAN, kakak laki-laki Lala, tak peduli pada kelakuan kedua orangtuanya. Bagi Fadlan yang penting uang jajan lancar. Selain itu, karena Fadlan sudah terjebak ke dalam pergaulan bebas dan obat-obatan terlarang. Asalkan ada uang untuk mabuk-mabukan, Fadlan sudah puas. Alasan Fadlan mabuk-mabukan karena merasa diacuhkan ayah dan ibunya yang sering bertengkar.
Suatu hari, saat Ratna tak ada, Galih membawa Indri ke rumah. Saat itu Lala melihat dan hendak marah. Lala berjanji akan mengadukannya pada ibunya, tapi Galih tidak takut. Sebelum Lala menelpon ibunya, ternyata ibunya sudah pulang karena ada barang yang tertinggal. Saat itulah Ratna melihat Galih memarahi Lala. Kejadian itu berlangsung dihadapan Indri. Ratna dan Indri pun langsung beradu omongan, hingga nyaris saling menjambak rambut.
Ratna mengatakan bahwa Indri telah merebut suami orang, merusak rumah tangga orang lain. Indri tak mau kalah, menjawab bahwa Ratna dianggap tak becus menjadi ibu dan melayani suami. Pertengkaran tak terelakan. Buntutnya, Lala yang melihat kejadian tersebut pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
Disaat Lala berbaring di rumah sakit, Ratna menunggu sendirian. Sementara Fadlan tak peduli. Galih hanya melihat sesekali, karena dia lebih senang bersama dengan Indri. Saat Galih menjenguk Lala, HP-nya langsung berdering. Dari Indri. Ratna tentu kesal pada Galih yang dianggap lebih berpihak pada perempuan lain daripada dengan anaknya sendiri. Apalagi akhirnya Galih malah kembali membawa Indri ke rumahnya.
Setelah sembuh, Lala semakin tak tahan dengan keadaan keluarganya. Apalagi saat Galih menggertak akan menceraikan Ratna. Melihat hal tersebut, jiwa Lala semakin tertekan. Disisi lain, Indri mendesak pada Galih agar secepatnya dinikahi. Kalau tidak, Indri akan menjauhi Galih.
Ratna yang bersikeras mempertahankan keluarga tak bisa berbuat apa-apa saat Galih menikah dibawah tangan. Galih mengajak Indri tinggal di rumahnya, membuat suasana di rumah Lala semakin panas. Keributan pun sering terjadi, dan Galih selalu berpihak pada Indri.
Indri yang sudah berada di atas angin kerap memfitnah Ratna dan Lala, agar Galih marah dan menghukumnya. Sampai-sampai pada satu kesempatan Ratna dan Lala disekap di dalam gudang dan tidak dikasih makan. Pembantu yang hendak menolongnya dihardik dan diancam Indri. Pembantunya tak bisa berbuat apa-apa. Untung saja ada Fadlan. Tetapi Fadlan tak menaruh dendam pada ayahnya, karena selama ini ia berharap mendapatkan uang darinya. Asalkan uang lancar, Fadlan tak mempedulikan apapun, termasuk soal keadaan ibu dan adiknya Lala.
Akan tetapi keasyikan Fadlan sering menerima uang dari Galih lama kelamaan membuat Indri geram. Indri menginginkan Galih tak lagi memanjakan Fadlan. Pemberian uang pada Fadlan harus dihentikan. Galih mau menuruti kemauan Indri, dan ini diketahui oleh Fadlan sendiri.
Fadlan tentu mulai kesal pada ibu tirinya. Di saat Fadlan ingin menghajar Indri, Ratna mencegahnya. Biar bagaimana, Fadlan tak boleh menyakiti orang lain, apalagi ibu tirinya sendiri. Dan bagi Indri, bukannya berterima kasih pada Ratna, dia malah menuduh Ratna mengancam akan membunuhnya.
Karena Fadlan tak suka dengan kehadiran Indri, maka pada suatu hari Fadlan pun hendak membunuh Indri. Namun sebelun hal itu dilakukan, Indri lebih dulu membuat Fadlan celaka hingga akhirnya Fadlan terjatuh dari anak tangga. Lala yang mengetahui hal ini menjerit histeris. Dalam keadaan seperti itu, Indri melakukan cara-cara licik, agar Lala dituduh sebagai pelaku penghilangan nyawa kakaknya sendiri. Indri mendorong Lala dan memaksa Lala mengaku telah membunuh kakanya sendiri. Pembantunya yang sempat melihat ketakutan karena Indri mengancamnya. Polisi dan pengadilan pun akhirnya memutuskan Indri bersalah hingga ia dipenjara.
Setelah Indri di penjara dan Fadlan meninggal dunia, kelakuan buruk Indri semakin menjadi-jadi. Ratna pun sering melamun dan suka kehilangan kendali. Indri semakin leluasa memojokan Ratna. Bahkan Indri menuduh Ratna gila dan meminta suaminya memasungnya. Galih yang sudah termakan pengaruh Indri pun mengabulkan keinginan Indri, memasung Ratna di kamar belakang rumah. Beruntung pembantunya dengan setia memberikan makanan dan minuman.
Dua tahun kemudian... setelah Lala dibebaskan dari penjara (karena dia masih dibawah umur dan mendapatkan keringanan hukuman), Lala kembali pulang ke rumah. Pada saat itu Indri sudah memiliki anak lelaki berumur satu tahun setengah. Kepulangan Lala ke rumah ditentang oleh Indri. Indri tak mau tinggal satu rumah dengan bekas narapidana.
Dengan berat hati, Galih mengusir Lala atas kemauan Indri. Lala sempat menanyakan dimana ibunya berada. Galih dan Ratna merahasiakannya. Lala pun pergi dari rumah tanpa tujuan yang jelas. Dalam kepergiannya, Ratna selalu ingat dengan ibu dan kakaknya. Lala berusaha keras mencari ibunya.
Sementara itu, keadaan Ratna yang terpasung di kamar belakang rumah semakin memprihatinkan. Ratna sudah lemah dan semakin tak berdaya. Belakangan, Indri melarang pembantu memberi makan Ratna. Karena kahisan, pembantunya tetap memberikan makanan dan mainuman pada Ratna dengan cara sembunyi-sembunyi. Pembantunya pun diberhentikan oleh Galih atas keinginan Indri.
Di tempat lain, Lala tinggal berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Kadang ke kolong jembatan, terkadang tidur di emperan toko. Lala mencari-cari dimana ibunya berada. Kebetulan ada seorang ibu yang mirip sekali dengan ibunya. Tapi saat Lala mendekat, si ibu pergi bersama keluarganya. Lala semakin sedih dan tertekan.
Suatu hari, saat Lala kelaparan, Lala bingung harus ke mana. Galih yang sedang melintas bersama Indri dan anaknya melintas, tak memperdulikan Lala. Dengan keadaan lapar, Lala mengikutinya. Setelah sampai di depan rumahnya, Indri mengusirnya. Namun Galih yang akhirnya tak tega mau menerima Lala.
Di rumahnya sendiri, Lala akhirnya dirawat oleh Galih, meskipun Indri tak menyetujuinya. Galih boleh menolong Lala, dengan syarat tidak berlebihan. Lala pun tidak boleh tidur di kamar, tapi cukup di ruang tamu. Pembantu Indri yang baru, perempuan setengah baya yang judes, pun diminta mengawasi gerak-gerik Lala.
Setelah Lala lebih baik, Galih berniat merawat Lala. Indri tentu saja kesal, dan semakin memojokan Lala. Disaat Galih bekerja, Lala diperlakukan bak pembantu. Pembantu Indri pun bertingkah layaknya majikan, meminta Lala mengerjakan tugas-tugasnya. Disisi lainnya, ternyata ada lelaki yang datang ke rumah bertemu dengan Indri. Lelaki ini tak lain lelaki simpanan Indri. Lala memergokinya, akan tetapi dia diancam oleh Indri agar tidak buka mulut pada Galih.
Lala yang masih mencari-cari dimana ibunya berada tak tahu kalau ibunya dipasung di salah satu kamar belakang. Ratna yang terpasung sempat melihat Lala dari balik pintu, sewaktu pembantu Indri memberikan makanan. Saat itu Lala tengah mengepel lantai dan dimarah-marahi oleh Indri. Ratna semakin sedih namun ia tak berdaya.
Dalam satu kesempatan, ketika makan bersama, Lala makan di lantai. Semua itu atas kemauan Indri. Lala tentu sedih dan terkenang akan masa lalu, dimana keluarganya masih akur. Ketika itu mereka makan bersama. Lamunan Lala terusik oleh Indri yang memberikan makanan bekas padanya.
Diwaktu berikutnya, Lala memberanikan diri bertanya pada Galih, dimana ibunya berada. Namun Galih mengaku tidak tahu. Indri sempat mengatakan kalau ibunya Lala sudah mati. Lala pun bertanya, kalau memang mati dimana kuburnya? Indri terdiam, membuat Lala curiga.
Malamnya, saat solat Lala berdoa agar Tuhan mengabulkan keinginannya bertemu dengan ibunya. Galih yang kebetulan melihat Lala solat menjadi terharu. Saat itulah Galih mendengar kalau Lala melihat lelaki lain yang telah menghianati ayahnya.
Hari-hari berikutnya, Galih mulai berpikir, bahwa di rumahnya ada keanehan yang terjadi terhadap Indri. Galih berusaha mencari tahu. Sementara di rumah, Lala kerap menyaksikan si lelaki simpanan Indri bermesraan dengan Indri. Pembantu Indri memomong anak indri yang masih kecil.
Saat pembantu Indri kerepotan, Lala diminta melongok kamar yang ribut dan mengeluh lapar. Itu adalah kamar yang memasung Ratna. Lala pun membawa makanan dan minuman sekadarnya ke dalam kamar. Disitulah Lala bertemu dengan ibunya!! Lala sempat tak mengenali, tapi Lala akhirnya tahu kalau perempuan yang terpasung itu ibunya!!
Indri yang mengetahui hal ini marah besar. Indri pun mengusir keduanya keluar dari rumah. Indri terpaksa memapah tubuh ibunya keluar dari rumah, tanpa tujuan yang pasti.
Galih yang akhirnya mengetahui hal ini marah pada Indri. Keduanya pun ribut. Saat bersamaan, lelaki simpanan Indri yang kebetulan sedang bersembunyi di salah satu sudut buru-buru keluar.Galih sempat bertanya, siapakah orang itu. Indri bilang itu tidak penting! Galih pun makin gundah dan geram.
Setelah Lala dan Ratna yang sudah tak berdaya keluar dari rumah, apa yang dilakukan keduanya? Lalau bagaimana sikap Galih selanjutnya? Apakah keluarga ini bisa bersatu kembali, atau ternyata mereka tak pernah bertemu lagi...? Semua terjawab dalam KISAH NYATA... “Ibu Kandung Yang Terpasung...?”***
|