search :

BUYUNG DAN RUMAH GADANG

WALAT (13 tahun), SYAMSUL (11 tahun) dan BUYUNG (10 tahun) adalah tiga bersaudara anak PAK DAUD yang bekerja menyewakan perahu. PAK DAUD yang sudah tua, mempunyai sebuah perahu yang setiap hari disewakan untuk mengangkut hasil bumi penduduk pinggiran sungai di daerah hulu yang bercocok tanam. WALAT, SYAMSUL dan BUYUNG terkadang bergantian membantu Ayahnya itu. Tetapi WALAT dan SYAMSUL seringkali melimpahkan tugas pada adik bungsunya, BUYUNG. BUYUNG tak pernah mengeluh dan dengan rajin membantu ayahnya.

Suatu hari, perahu PAK DAUD mengalami kecelakaan dan rusak. PAK DAUD kebingungan karena tak mampu membayar tukang (yang biayanya mahal) untuk membetulkan perahunya. Sedangkan tanpa perahu ia tak bisa mendapat uang. Melihat ayahnya kebingungan BUYUNG merasa kasihan dan mengatakan bilang bahwa ia akan membetulkan perahu rusak itu. PAK DAUD hanya tertawa dalam hati, dan mempersilahkan BUYUNG membetulkan perahunya. “Anak kecil mana bisa betulin perahu sendirian”, pikir PAK DAUD.

BUYUNG dengan polos bertanya-tanya cara membuat perahu dan mulai membetulkan perahu ayahnya yang tersandar di pinggir sungai di temani kerbaunya, SI GONJONG. BUYUNG bekerja keras tapi gagal. Ternyata membetulkan perahu tak segampang yang ada di pikiran BUYUNG. Memotong kayu saja BUYUNG setengah mati susahnya. Karena frustasi BUYUNG membanting parang yang dipakainya memotong kayu. Parang terpental dan nyemplung ke sungai.

 

Ternyata parang itu jatuh mengenai Peri Air yang sedang menari di dasar sungai. Pegangan parang mengenai kepala Peri air hingga benjol. Peri air langsung dengan marah muncul menghampiri BUYUNG. BUYUNG sempat ketakutan melihat PERI AIR yang seperti NEPTUNUS itu marah-marah. BUYUNG meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sedang membetulkan perahu ayahnya dengan parang itu. PERI AIR simpati melihat BUYUNG yang masih kecil bekerja membetulkan perahu sendirian dan berniat menguji kebaikan hati BUYUNG. PERI AIR kemudian menyelam ke dalam air dan tidak beberapa lama kemudian keluar dengan menunjukkan sebuah Parang dengan gagang bertahtakan intan berlian. PERI bertanya apakah Parang itu milik BUYUNG? BUYUNG menggeleng dan mengatakan itu bukan Parangnya. PERI AIR lalu masuk dan kembali dengan Parang emas. Kembali BUYUNG mengatakan itu bukan Parangnya. Akhirnya PERI masuk dan kembali dengan Parang butut. BUYUNG dengan gembira mengatakan bahwa PARANG itu miliknya. PERI AIR sangat senang karena BUYUNG jujur PERI air lalu menghadiahkan Parang emas itu pada BUYUNG.
 
BUYUNG sangat senang dan kaget sekali ketika melihat PARANG EMAS itu ternyata sangat tajam dan sangat memudahkan BUYUNG bekerja. Memotong kayu menjadi mudah sekali. Dengan bantuan PARANG EMAS dan kerbaunya yang mengangkuti kayu, BUYUNG dengan cepat bisa menyelesaikan pembuatan perahu itu. Ujung perahu itu berbentuk tanduk kerbau karena BUYUNG sangat berterimakasih pada SI GONJONG yang sangat membantunya.
 
Saat akan pulang, di pinggir hutan BUYUNG mendengar teriakan minta tolong. BUYUNG melihat seorang anak kecil perempuan yang kakinya terjepit batu di dasar lereng. BUYUNG kemudian membebaskan perempuan yang bernama FATIMAH tersebut. FATIMAH ternyata mau ke kota dan menanyakan jalan. BUYUNG menunjukan jalan dan berpisah dengan FATIMAH. Tapi dalam perjalan ke rumahnya BUYUNG bertemu dengan FATIMAH. FATIMAH kembali menanyakan arah jalan ke kota. Sampai 3 kali BUYUNG bertemu dengan FATIMAH. Ternyata FATIMAH kesasar terus. FATIMAH bercerita bahwa orangtuanya telah dibunuh perampok dan harta bendanya di rampok. Dan rumahnya dibakar. BUYUNG dengan prihatin mengajak FATIMAH ke rumahnya.
 
WALAT dan SYAMSUL sangat dengki ketika melihat BUYUNG mendapat pujian dari ayahnya karena telah menyelesaikan perahu yang sangat bagus. Apalagi mereka melihat BUYUNG pulang dengan FATIMAH yang cantik dan baik hati dan membawa Parang emas pula. BUYUNG bercerita bagaimana ia mendapat parang itu. WALAT dan SYAMSUL lalu meniru apa yang dilakukan oleh BUYUNG. PERI AIR tahu bahwa WALAT dan SYAMSUL serakah, WALAT dan SYAMSUL mengaku bahwa Parang mereka emas ketika di tanya oleh PERI AIR. PERI malah mengerjai WALAD dan SYAMSUL. Akhirnya WALAD dan SYAMSUL pulang dengan tangan kosong.
 
Suatu hari PAK DAUD sakit parah terkena Malaria. WALAT, SAMSUL, FATIMAH dan BUYUNG membawa PAK DAUD ke hulu Sungai BATANG KAMPAR di mana ada tabib yang bisa menyembuhkan penyakit PAK DAUD. Perjalanan ke BATU KAMPAR sangat berat karena untuk menuju ke sana harus melewati sarang Buaya. WALAT dan SYAMSUL malah terkencing-kencing ketakutan melihat banyaknya buaya yang menyerang perahu mereka. Tapi berkat bantuan Parang Ajaibnya, BUYUNG bisa menyingkirkan buaya-buaya itu.
 
Ketika sampai di Batang Kampar, Pak Daud yang bertambah parah langsung di bawa ke tabib. Tabib itu mengatakan bahwa PAK DAUD kalau tak di obati segera akan meninggal dan obat yang bisa menyembuhkan PAK DAUD adalah bunga Telasih yang tumbuh di puncak gunung TALANG. PAK DAUD menyuruh WALAT dan SYAMSUL mencari bunga itu. Tapi keduanya berkelit dan mencari alasan karena malas. WALAT mengatakan bahwa kakinya sakit akibat bermain bola. Sedangkan SYAMSUL beralasan bahwa lehernya sakit tak bisa menengok. BUYUNG mengajukan diri untuk mencari obat itu. FATIMAH juga ingin ikut menemani BUYUNG. TABIB memperingatkan bahwa banyak rintangan untuk mengambil bunga TELASIH itu. BUYUNG dan FATIMAH menyanggupinya. Berangkatlah BUYUNG dan FATIMAH berjalan kaki menyusuri hutan. Ternyata perjalanan sangat berat. BUYUNG dan FATIMAH menemukan sebuah padang bunga yang di penuhi tawon. Kulit FATIMAH penuh bintik akibat digigit tawon. Selanjutnya, BUYUNG dan FATIMAH harus melewati tebing air terjun yang penuh lumut. Setelah melewati tebing itu, BUYUNG dan FATIMAH sampai ke sebuah lorong yang di penuhi laba-laba (adegan montage). BUYUNG dan FATIMAH akhirnya sampai ke tempat bunga TELASIH. Bunga itu di jaga seorang Nenek Tua.
 
Nenek Tua Buta itu meminta bunga TELASIH itu di tukar dengan penglihatan BUYUNG atau FATIMAH. BUYUNG kebingungan. Apalagi Ayahnya terancam nyawanya. FATIMAH mencoba menawar dengan merelakan satu penglihatannya saja untuk pengganti bunga Telasih. Si Nenek menolak. Akhirnya FATIMAH merelakan penglihatannya agar nyawa PAK DAUD terselamatkan. BUYUNG sempat mencegah tapi FATIMAH bilang BUYUNG dan PAK DAUD telah banyak membantunya. Meskipun sedih BUYUNG tak bisa berbuat apa-apa. BUYUNG dan FATIMAH pulang membawa bunga TELASIH dengan langkah tertatih-tatih.
 
Sesampainya di tempat peristirahatan. Ternyata PAK DAUD telah meninggal karena tak di urus oleh WALAD dan SYAMSUL yang sibuk bermain. Pak Daud meninggal di gubuk Tua. BUYUNG dengan sedih menguburkan ayahnya. BUYUNG lalu bertekad tinggal di tempat ayahnya meninggal. BUYUNG lalu mengangkut perahunya ke darat dan mengambil kayunya untuk membuat rumah. BUYUNG susah payah membangun rumah dan berkali-kali gagal. BUYUNG lalu teringat pada Parang Emas Ajaibnya yang telah di bungkus dan di sembunyikan. BUYUNG membuka parang itu dan  dengan bantuan parang ajaibnya rumah bisa di selesaikan. Bentuk tanduk kerbau tetap di pertahankan di ujung atap rumah. Penduduk sekitar banyak memuji bentuk rumah BUYUNG.
 
SYAMSUL dan WALAT merasa iri dan mencoba membuat rumah juga. Mereka mencuri parang emas milik Buyung menebang pohon untuk diambil kayunya sebagai bahan untuk membangun rumah. Tapi karena tanpa perhitungan, pohon jatuh menimpa kaki mereka. WALAT dan SYAMSUL berteriak minta tolong dalam hutan tapi tak ada yang mendengar mereka. Sementara BUYUNG bingung kehilangan Parang Emasnya dan mencari. BUYUNG akhirnya menemukan WALAT dan SYAMSUL yang terperangkap. BUYUNG menolong WALAT dan SYAMSUL yang meminta maaf dan berjanji tak akan menyalah gunakan Parang Emas itu.
 
SI BUYUNG masih gundah karena kasihan melihat FATIMAH yang buta. SI BUYUNG teringat pada PERI dan mendatangi PERI AIR untuk meminta bantuan. PERI AIR menyanggupi mengembalikan penglihatan FATIMAH asal BUYUNG mengembalikan PARANG EMAS pemberiannya. BUYUNG akhirnya menyerahkan parang itu dan FATIMAH bisa melihat kembali. *TAMAT*

Pemain

Donny, Ryna Alqadrie, M Alief, Fikih, Dayat, Bella Anastasia

Wallpaper

Jadwal Tayang

MingguSeninSelasaRabuKamisJumatSabtu
- 12 April 2010
19:30 - 21:00
Di TPI
- - - - -


© Copyright 2008 - PT. Lunar Jaya Film