|
Amin, Tari dan Deden, tinggal di sebuah kota kecil yang memiliki bioskop tua. Bentuknya sebagaimana gedung pertunjukan, namun sudah nampak tua dan tidak terawat. Bioskop tua itu kini jarang sekali ada yang menonton sebab warga sudah malas untuk menonton karena film yang diputar itu-itu saja. Di dalam bioskop hanya ada bangku-bangku tua panjang tempat duduk para penonton. Terakhir, bioskop itu sudah tidak lagi dikunjungi orang, bahkan beberapa orang tua pun melarang anaknya main ke sana.
Suatu ketika, saat pulang sekolah, Amin, Deden dan Tari lewat depan bioskop itu. Mereka lalu iseng masuk ke dalam bioskop tsb. Amin mengajak teman-temannya pulang saja karena Amin tidak merasa nyaman di dalam gedung itu, namun Deden malah mengajak Amin dan Tari masuk ke ruang pemutaran proyektor. Di alat pemutaran film, masih terpasang sebuah gulungan film. Deden yang usil malah menekan-nekan beberapa tombol alat, eh… filmnya nyala. Deden dan Tari bersorak senang. Amin mengatakan, mereka harus mematikan film itu karena nanti kalau yang punya datang bisa dimarahi. Deden malah mengajak Amin dan tari nonton. Amin akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan sahabatnya. Mereka bertiga segera menonton. Di layar, nampak seorang Raja (yang nanti akan diketahui sebagai Raja Arwana) sedang duduk mengawasi para pekerja menambang emas. Raja Arwana itu nampak jahat sekali, di tangannya ada cambuk. Di dekat Raja itu ada seorang Putri yang selalu menunduk (nanti kita akan tahu namanya adalah Putri Sendu).
Ketika di layar Raja Arwana sedang marah dan menghukum seseorang, Deden nampak ikutan marah demi melihat adegan film itu. “Kejam sekali Raja itu!” kata Deden. Dengan sok jago dia mendekat ke layar dan bergaya lagaknya pahlawan membela rakyat, dia teriak-teriak melarang Raja Arwana untuk menghukum orang dengan sewenang-wenang. Amin bilang pada Deden, “biasa aja kan itu hanya film”. Namun anehnya, di layar Raja Arwana seperti menatap ke Deden. Raja Arwana menunjuk ke Deden yang berdiri di depan layar dan menyuruh pengawal untuk menangkapnya. Deden ketawa, dia mendekat ke layar dan memegang layar, “Nih tangkep!”. Tiba-tiba, Deden malah seperti ditarik ke dalam layar. Amin dan Tari ketawa, akting Deden boleh juga. Namun ketika separuh badan Deden seolah seperti masuk ke layar dan Deden teriak-teriak ketakutan, Amin dan Tari baru percaya bahwa Deden dalam masalah.
Amin dan Tari segera melompat dari bangku dan mengejar Deden. Amin menarik tangan Deden dibantu Tari. Namun mereka seperti menghadapi kekuatan dahsyat, ada tarikan yang sangat kencang. Maka Deden, Amin dan Tari pun menjerit panjang. Mereka seperti memasuki lorong yang panjang sekali. Melayang-layang dan kemudian…
Gusrakk…! Amin dan Tari jatuh di atas semak. Amin lalu terjungkal ke lereng dan berguling-guling bersama Tari. Jedug! Amin berhenti tepat di sebuah gerobak. Menyusul kemudian tubuh Tari menabrak dirinya. Keduanya bangun, Amin melihat gerobak itu berisi tanah galian. Di sekililingnya nampak banyak orang bekerja. Ada yang megang cangkul, ada yang mengangkut tanah dengan keranjang. Persis seperti apa yang dia lihat di film. Kagetnya lagi, Amin melihat Deden sedang ditarik dan diikat ke tiang. Deden meronta-ronta. Raja Arwana kemudian mengatakan, bahwa siapa yang berani melawan dirinya seperti Deden ini, maka akan mendapat hukuman. Amin dan Tari kaget. Mereka belum habis pikir kenapa mereka bisa masuk ke dunia ini.
Amin, Tari dan Deden berpakaian berbeda dengan pakaian sebelumnya. Pakaian orang jaman dulu (klasik). Amin dan Tari teriak memanggil Deden, hendak menolong Deden. Tapi kemudian ada yang menghardik Amin dan Tari untuk segera bekerja. Amin dan Tari kaget. Orang yang seperti pengawal itu menyuruh Amin menarik gerobaknya. Orang-orang di sekitar Amin dan Tari teriak agar menyuruh Amin bekerja supaya tidak kena hukuman. Amin dan Tari pun segera bekerja, menarik gerobak yang berisi tanah galian itu.
Amin dan Tari bekerja sambil mencari-cari tahu mereka sedang apa di sini. Ternyata mereka disuruh kerja paksa menambang emas. Semua orang yang ada di tempat ini bekerja untuk mencari emas bagi Raja Arwana. Amin dan Tari bertanya, apakah mereka semua berasal dari dunia luar? Semua mengatakan, iya. Mereka semua pasrah, karena tidak tahu bagaimana caranya keluar dari tempat ini. Amin dan Tari makin penasaran. Berarti mereka harus mencari bagaimana caranya keluar dari tempat ini.
Raja Arwana didampingi oleh Putrinya, Putri Sendu yang seusia dengan Deden, Amin dan Tari. Dijuluki Putri Sendu, sebab sang Putri selalu menunduk, tidak mau menatap. Itu disebabkan karena sang Putri sebenarnya tidak setuju dengan keinginan ayahandanya itu. Tanah-tanah yang diangkut itu kemudian dihancurkan, dicampur air, diayak dan dicari bulir-bulir emasnya. Setiap emas yang didapat diserahkan ke Raja Arwana yang duduk di sebuah tempat mewah. Dia hanya memperhatikan para pekerja yang bekerja dengan peluh bercucuran. Tidak ada yang berani dengan Raja Arwana, sebab Raja Arwana memiliki cambuk sakti. Cambuk itu bila disabetkan ke batu, maka batu pun akan hancur lebur.
Saat sedang bekerja, ada orang tua yang jatuh karena keberatan bawa tanah. Amin menolong orang tua itu, tapi malah dibentak oleh pengawal. Amin tidak boleh menolong orangtua itu. Amin geram melihat semua itu, dia segera mendatangi Raja Arwana dan memprotes kerja paksa ini. Raja Arwana kaget, dia menyuruh para pengawal untuk mengurung Amin. Amin pun dimasukan ke penjara bersama Deden. Tari jadi sangat kesepian. Tari lalu berpikir, bagaimana kalau dia menemui Putri Sendu saja. Seperti Putri Sendu bisa diajak kompromi.
Ketika malam tiba, semua orang disuruh istirahat dan masuk ke dalam rumah gubuk masing-masing. Tari menemui Putri Sendu dan meminta supaya Amin dan Deden dibebaskan. Putri Sendu berjanji akan meminta pada ayahnya. Esok paginya, Putri Sendu pun meminta pada ayahnya agar Amin dan Deden dibebaskan. Raja Arwana semula menolak. Tapi Putri Sendu mengatakan kalau Amin dan Deden belum pantas untuk dihukum. Raja Arwana mengabulkan. Amin dan Deden pun kemudian dibebaskan. Amin dan Deden kembali disuruh bekerja seperti yang lain. Ketika sedang istirahat, Amin, Deden dan Tari melihat ada orang yang ditarik oleh pengawal dan dimasukan ke penjara. Dari salah seorang di situ, Amin , Deden dan Tari tahu kalau orang yang diseret itu sedang berusaha kabur, tapi tertangkap. Orang yang kabur dan tertangkap, akan dibuang di Hutan Larangan, jadi makanan buas. Sudah banyak orang yang dihukum karena ingin kabur, karena tidak tahan dengan kekejaman Raja Arwana. Tapi mereka semua gagal karena tidak menemukan jalan. Kebanyakan orang di sini sudah pasrah. Apalagi Raja Arwana suka mengadu orang yang dihukum dengan Banteng miliknya. Amin, Deden dan Tari terpekur mendengar cerita itu.
Di sela-sela istirahat. Tari, Deden dan Amin berkumpul. Mereka membicarakan bagaimana caranya supaya bisa keluar dari tempat ini dan membawa semua orang yang ada di sini keluar. Tentu saja hal itu dilakukan sambil sembunyi-sembunyi, karena kalau ketahuan bisa dihukum. Deden yang paling emosi dan tidak sabaran dengan keadaan ini. Amin menasehati Deden agar bersabar, mereka harus menemukan caranya keluar dulu. Deden menahan geram. Saat itu, terdengar suara memanggil Amin. Mereka buru-buru pergi. Ternyata Amin dipanggil untuk mengantar batangan Emas ke istana Raja Arwana. Amin pun kemudian mengantarkan emas itu. Ketika Amin pergi, Deden kembali bikin ulah. Deden emosi, dia tidak bekerja dan ingin pergi dari tempat itu. Deden lagi-lagi ditangkap.
Di istana, setelah Amin menyerahkan emas pada penjaga. Amin bertemu dengan Putri Sendu, Putri Sendu mengatakan bahwa dia sangat kagum dengan keberanian Amin dan Deden yang menentang ayahnya. Sebenarnya juga Putri Sendu tidak setuju dengan kerja paksa yang dilakukan ayahnya. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Putri Sendu lalu bilang kalau kalau baru saja Deden kembali berulah dan dimasukan penjara. Amin kaget, “Dasar si Deden nggak sabaran.”. Menurut Putri Sendu, hukumannya adalah dimasukan ke dalam kandang Banteng dan bertarung dengan Banteng. Amin tersentak, dia lalu meminta agar Putri Sendu mau membantu dirinya. Tapi ketika akan menjawab, Putri Sendu keburu dipanggil pengawal, dia dipinta untuk ikut dengan ayahnya.
Amin segera kembali ke tempatnya bekerja, sedangkan Putri Sendu mengikuti Raja Arwana ke sebuah tempat di luar istana. Perjalanan agak jauh juga, sebab Putri Sendu melewati hutan kecil dulu, baru sampai. Setiba di tempat itu, ada sebuah gerbang, Raja Arwana berhenti. Raja Arwana menyuruh Putri Sendu menunggu sebentar di depan gerbang itu, hanya Raja Arwana saja yang pergi melewati Gerbang itu sambil membawa sesuatu yang tidak diketahui oleh Putri Sendu. Putri Sendu heran. Setelah agak lama, Raja Arwana kembali, dia sudah tidak membawa apa-apa lagi. Raja Arwana segera mengajak Putri Sendu kembali. Putri Sendu yakin, pasti itu adalah tempat yang sangat penting hingga dia saja tidak boleh tahu isi tempat itu.
Amin dan Tari melihat Deden diikat di sebuah tiang, esok Deden akan dihukum, diadu dengan Banteng layaknya matador. Deden sudah nangis-nangis saja dan minta tolong ke Amin. Makanya yang sabaran, omel Amin pada Deden. Tapi tak urung hal ini membuat Amin panik juga. Amin harus segera mencari cara untuk membebaskan Deden dan membawa mereka semua keluar dari tempat ini. Amin kemudian dengan diam-diam menemui Putri Sendu. Amin meminta bantuan dengan sangat pada Putri Sendu agar Deden dibebaskan. Tapi sayang, Putri Sendu tidak bisa membantu, sebab Deden sudah dua kali melawan Raja Arwana. Amin bingung.
Esoknya, Deden menangis ketika akan dibawa ke Kandang Banteng. Amin tidak tega. Amin lalu menemui Raja Arwana dan meminta agar dia saja yang menghadapi Banteng. Jangan Deden. Raja Arwana menerima, tapi syaratnya, kalau Amin kalah, dia harus mau dibuang ke Hutan Larangan. Amin juga minta, kalau dia berhasil mengalahkan Banteng, maka dia dan semua orang harus dibebaskan dan dikembalikan ke dunia asalnya. Raja Arwana sepakat. Putri Sendu sangat kagum dan haru melihat keberanian Amin. Amin pun segera dilepas ke tengah kandang dengan hanya bermodal kain merah untuk menggantikan Deden. Semua orang tegang melihatnya. Banteng muncul. Amin agak gugup. Banteng segera menyerang Amin. Amin segera mempermainkan kain merahnya. Banteng tidak berhasil menyeruduk Amin. Semua bersorak gembira. Berkali-kali Banteng gagal, namun Amin pun sempat kena seruduk dan terlempar. Tapi ia segera bangkit. Makin lama, Amin makin lincah mempermainkan Banteng layaknya matador yang sudah ahli.
Lama kelamaan, Banteng kecapean dan bingung, serudukan membabi buta. Amin kemudian menjebak Banteng supaya menyeruduk tiang pembatas. Banteng menyeruduk ke kain merah, namun di belakang kain merah ada tiang besi. Kepala Banteng jadi benturan dengan besi. Toeng…!! Banteng ambruk. Semua bersorak senang. Raja Arwana geram, dia segera memukulkan cambuknya ke Banteng. Banteng pun hancur lebur. Raja Arwana kesal, dia memukul Amin. Amin berkelit, cambuk kena tanah. Tanah berlubang. Putri Sendu mengingatkan ayahnya supaya dia menepati janjinya. Tapi Raja Arwana tidak mau mendengar. Amin kembali dipukul, pukulan cambuk kena tanah yang dinjak Amin. Amin kelempar. Putri Sendu sangat kecewa pada ayahnya. Diambilnya tameng emas di sisi ayahnya dan segera lari menolong Amin.
Putri Sendu membawakan sebuah tameng bulat berwarna emas itu. Raja Arwana marah, itu tameng sakti miliknya. Putri Sendu menyuruh Amin agar menangkis pukulan cambuk sakti ayahnya dengan tameng itu. Amin terima kasih pada Putri Sendu. Saat itu, Amin meminta pada Putri Sendu agar menunjukan jalan keluar dari tempat ini. Mereka ingin kembali pada kehidupannya semula. Putri Sendu bingung, dia memang tidak tahu. Tapi Putri Sendu lalu ingat akan sebuah tempat yang ia kunjungi bersama ayahnya (flash back). Putri Sendu segera mengajak semua orang mengikutinya. Raja Arwana kian geram. Amin segera memasang tameng di tangan kanannya. Amin berdiri menghadapi Raja Arwana dan segera menyuruh Deden dan Tari serta semua orang ikut Putri Sendu.
Raja Arwana murka tiada kepalang, disabetkan cambuk ke Amin. Cetar. Amin menangkis cambuk itu dengan temang. Toang…! Raja Arwana marah sekali. Cambuknya tidak mempan. Dia memukul dengan membabi buta. Semua benda hancur kena pukulan cambuknya. Di saat Amin bertarung dengan Raja Arwana, Putri Sendu dan yang lain sampai ke gerbang luar istana. Pengawal heran kenapa Putri membawa semua orang kemari, Putri Sendu lalu bohong dengan mengatakan bahwa dia disuruh mengambil emas di perbatasan oleh ayahandanya. Pengawal percaya. Putri Sendu bergegas.
Kembali pada pertarungan Amin. Amin memang bisa menangkis pukulan cambuk Raja Arwana, tapi dia tidak punya senjata. Makanya Amin jadi bulan-bulanan juga. Dia kelempar sana dan sini. Satu cambukan Raja Arwana kemudian menghantam tanah di depan Amin dan membuat Amin mental ke pohon. Amin pingsan sebentar. Raja Arwana ketawa, dia segera lari menyusul Putri Sendu dan rombongan.
Putri Sendu sudah mau sampai gerbang yang dulu didatanginya bersama Raja Arwana. Ketika sampai gerbang, Raja Arwana teriak ‘berhenti’. Cetar..! Semua orang berhenti ketakutan. Putri Sendu gugup. Raja Arwana lalu menarik Putri Sendu. Putri Sendu ketakutan. Raja Arwana lalu memarahi Putri Sendu dan memaksa Putri Sendu agar mengatakan pada semua orang itu bahwa di jalan luar gerbang sana tidak ada apa-apa. Agar semua orang itu kembali. Deden dan Tari yang melihat nampak cemas. Putri Sendu ragu, Raja Arwana mengancam, kalau Putri Sendu tidak mengatakan itu, maka dia akan dibuang ke Hutan Larangan. Semua tegang menunggu ucapan apa yang akan disampaikan Putri Sendu. Putri Sendu lalu berkata, “Larilah melewati gerbang itu! Di sana jalan pulang kalian!” Maka serentak semua lari, Raja Arwana geram. Raja Arwana segera menyerahkan Putri Sendu pada pengawalnya untuk dipenjara. Raja Arwana mengarahkan cambuknya ke gerbang, cetar…! Gerbang hancur berkeping-keping. Semua orang kaget. Para Pengawal Raja Arwana segera lari untuk menangkapi Deden, Tari dan orang-orang yang akan kabur.
Raja Arwana kembali akan menyabetkan cambuknya, namun nampak Amin berlari kencang menubruk Raja Arwana. Raja Arwana terguling. Cambuk lepas. Buru-buru Amin mengambil cambuk itu. Amin segera menyabetkan cambuk ke para pengawal. Cetar. Pengawal terguling, ada yang lari ketakutan. Raja Arwana sangat marah melihat itu. Amin segera lari menuju gerbang. Menyusul Deden, Tari dan yang lain. Raja Arwana yang bangun segera mengejar, teriak minta cambuknya dikembalikan. Amin terus lari. Namun kini mereka menjumpai sebuah tembok/tebing yang cukup tinggi. Bingung mereka hendak lari kemana. Di situ hanya ada sebuah pintu yang digembok besar. Amin, Deden, Tari dan yang lain berhenti di depan pintu itu. Amin yakin, inilah pintu keluar mereka. Raja Arwana teriak agar pintu itu jangan dibuka.
Deden dan Tari menyuruh Amin memukulkan cambuk ke pintu. Amin segera menyabetkan cambuk ke pintu, cetar! Blarr!! Pintu hancur lebur. Ada cahaya keluar dari pintu itu. Orang-orang segera menyerbu masuk. Raja Arwana nampak sangat geram, dia lari mengejar. Amin yang terakhir masuk ke pintu itu. Tapi, di dalam ruang itu mereka hanya menemui ruang kosong dengan cahaya sangat terang dan silau. Sehingga karena sangat silaunya, mereka semua memejamkan mata. Lalu, blass…!! Mereka seperti tersedot dan memasukir lorong panjang.
Gubrakk…, mereka semua jatuh di depan layar. Di layar nampak Raja Arwana masih berlari dan akan menuju ke pintu yang mereka masuki ketika di dunia dalam film. Amin panik, “Deden cepat matikan filmnya! Jangan sampai Raja Arwana masuk ke dalam pintu itu!” Deden segera lari ke proyektor. Semua menatap ke layar, Raja Arwana dan pengawalnya makin dekat. “Cepet, Den…!!” Tari histeris, juga semua orang yang ada. Tepat ketika di layar Raja Arwana di depan pintu masuk tembok/tebing, layar mati. Pet! Kemudian lampu gedung menyala terang, byar…!! “Horee…!!” Semua orang bersorak gembira. Mereka senang sekali bisa kembali ke dunia asalnya. Amin pun dielu-elukan sebagai pahlawan. Amin senyum-senyum, ditatapnya cambuk dan tameng emas yang ikut terbawa ke dunianya.
The End
|