|
CECEP adalah anak yang malas belajar. Suatu hari BU TINI menghukum CECEP yang mendapat nilai ulangan 0 karena tidak belajar. CECEP tidak boleh keluar rumah selama liburan.
Esoknya, seorang anak perempuan datang ke rumah. Anak yang bernama CICA itu mengatakan ia sedang belajar isyarat Morse Pramuka. CICA mengatakan kalo ia menerima isyarat Morse lewat radio-nya. Bunyinya: Tolong!.. Aku ada di dalam kawah Gunung Tangkuban Perahu!!.. Dodi Hidayat. BU TINI kaget karena Dodi Hidayat adalah suaminya yang hilang setahun yang lalu waktu meneliti kawah Gunung tersebut. BU TINI tak percaya bahwa suaminya masih hidup. Karena sudah setahun tak ada kabar dari suaminya. CECEP ngotot ingin ke Gunung Tangkuban Perahu. BU TINI melarang. Akhirnya CICA pulang dan CECEP tidur dengan kesal. Di kamar CECEP melamun membayangkan Bapaknya. Saat itu CECEP teringat pada buku yang di temukannya di ruang kerja Bapaknya dulu. Cecep lalu membuka buku itu. Ternyata buku itu berisi rencana perjalanan Pak DODI ketika hendak berangkat ke Gunung Tangkuban Perahu. Di situ tertulis bahwa perjalanan Pak DODI harus berakhir sebelum hari ulang tahun CECEP. CECEP terharu dan langsung bertekad untuk mencari Bapaknya.
Malamnya diam-diam CECEP pergi berbekal ransel naik bis ke Bandung-Lembang, tempat di mana Gunung Tangkuban Perahu berada. BU TINI panik mencari kemana-mana dan bertemu dengan CICA. CICA yakin kalau CECEP pergi ke Gunung Tangkuban Perahu. CICA lalu menyusul.
Di kaki gunung Tangkuban Perahu mereka bertemu. CICA mengajak CECEP pulang, tapi CECEP tak mau karena ingin mencari ayahnya yang sudah lama tak pulang. Saat itu hujan lebat. CECEP dan CICA berteduh di sebuah gua. Petir menyambar mulut gua hingga meruntuhkan Gua. CECEP dan CICA terpaksa mencari jalan keluar dengan masuk ke dalam Gua yang ternyata sangat panjang. Di ujung gua, CECEP dan CICA terpeleset dan masuk ke lorong es yang panjang. Mereka tiba di sebuah Gua yang sangat luas lengkap dengan danau dan berbagai tanaman tinggi. Tanaman itu ternyata tanaman pemakan daging. CECEP dan CICA lari kocar-kacir ketika berusaha menembus tanaman pemakan daging itu untuk mencapai danau. Akhirnya CICA dan CECEP minum dan beristirahat di pinggir danau. Di danau mereka melihat burung yang bercahaya. CECEP tiba-tiba teringat bahwa dalam buku rencana perjalanan Bapaknya di sebutkan ada burung yang bercahaya. Si Burung bercahaya langsung terbang ke seberang.
CECEP langsung menyimpulkan arah burung terbang tentu di mana bapaknya berada. CECEP lalu mengajak CICA menyebrangi danau. CECEP dan CICA lalu membuat rakit kecil dari batang pohon. Petualangan menyebrangi danau di mulai. Rakit itu di tarik oleh layangan besar. Ternyata laut itu penuh ikan terbang yang bertaring. Ikan terbang sempat menggigit tali layangan. CICA sibuk memukuli ikan terbang itu, sementara CECEP memegangi tali layangan. Tapi layangan tertiup angin sangat kencang sehingga CECEP tertarik terbang bersama layangan. CECEP panik terbang dan mendarat di sebrang danau terpisah dari CICA.
CECEP lalu mencari CICA. Dalam perjalan, CECEP menemukan padang rumput di mana banyak sekali tulang besar. Ternyata itu adalah kuburan dinosarus. CECEP kaget ketika tanah bergoyang karena langkah kaki yang sangat besar. CECEP ketakutan ketika muncul dinosaurus di belakangnya. CECEP di kejar-kejar Dinosaurus sampai terdesak di sebuah ceruk gua yang dangkal. Dinosaurus berusaha menggapai CECEP. Saat itu tiba-tiba dinding Gua jebol dan muncul seorang Pria brewokan menolong Cecep. Ternyata pria brewokan itu adalah Pak DODI, ayah Cecep yang terjebak di bawah tanah selama 2 tahun. CECEP dan Bapaknya segera kabur dan berhasil meloloskan diri dari kejaran Dinosaurus. Pak Dodi dan Cecep melewati sungai lahar dengan mengendarai perahu dari tulang rahang dinosaurus. Di tengah lahar Pak DODI dan CECEP bertemu dengan CICA yang terjebak lahar. Setelah menyelamatkan CICA, Pak DODI mengatakan bahwa mereka harus ke arah terowongan pertemuan antara lahar dan air. Pak DODI telah menunggu peristiwa itu selama 2 tahun. Uap yang di timbulkan dari lahar dan air akan menyembur dan mengakat perahu mereka ke atas.
Benar saja!!.. Air mendorong perahu mereka dari bawah dan perahu terangkat dengan kencang!!.. Perahu keluar dari kawah puncak gunung Tangkuban perahu.
Akhirnya petulangan CECEP dan CICA berakhir. Cecep sangat bahagia karena bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan Bapaknya. Pak Dodi lalu berencana akan mengajak CECEP dalam setiap perjalanan petualangannya. Tentu saja BU TINI sangat tidak setuju!!...
|